Kamis, 24 Februari 2011

artikel

Antara Kritik dan Penghargaan

Seorang wanita baru pindah ke sebuah kota kecil. Setelah berada di sana

beberapa waktu, ia mengeluh kepada tetangganya tentang pelayanan buruk yang

dialaminya di apotek setempat. Ia meminta pada tetangganya agar mau

menyampaikan kritiknya pada pemilik apotek itu.



Beberapa hari kemudian wanita pendatang tersebut pergi lagi ke apotek itu.

Pemilik apotek menyambutnya dengan senyum lebar sambil mengatakan betapa

senangnya ia melihat wanita itu berkenan datang kembali ke apoteknya, dan

berharap wanita dan suaminya menyukai kota mereka. Bukan hanya itu, pemilik

apotek itu bahkan menawarkan diri membantu wanita dan suaminya menguruskan

berbagai hal agar mereka bisa menetap di kota itu dengan nyaman. Lalu, ia

pun mengirimkan apa yang dipesan wanita itu dengan cepat dan baik.

Wanita itu merasa senang dengan perubahan luar biasa yang ditunjukkan oleh

pemilik apotek. Kemudian, ia melaporkan hal itu pada tetangganya. Katanya,

"Anda tentu sudah menyampaikan kritik saya mengenai betapa buruk pelayanannya

waktu itu."



"Oh, tidak," jawab tetangganya. "Sebenarnya saya tidak menyampaikan kritik

anda pada mereka. Saya harap anda tidak keberatan. Saya katakan pada

pemilik apotek itu betapa anda terkagum-kagum melihat caranya mendirikan

apotek di kota kecil ini. Dan, anda merasa apoteknya adalah salah satu apotek

dengan pelayanan terbaik yang pernah anda temui."



"???"



(Editor) Smiley's...! Semua orang akan melakukan apa pun bagi anda, bila

anda memperlakukan mereka dengan penuh hormat, penting, dan berharga.

Kritik seringkali hanya menghancurkan harapan perbaikan. Sedangkan sebuah

apresiasi (penghargaan) selalu mendorong orang lain untuk melakukan

lebih baik lagi. Adakah kritik yang membangun? Yang pasti ada adalah

penghargaan yang membangun. Semoga Smiley's kali ini menggugah kita

agar lebih pandai menyuarakan penghormatan, bukan hanya kritik belaka.



(diadaptasi dari "Becoming a Person of Influence", John c. Maxwell.

Re-written: Editor Rekan-Kantor eNewsletter)


APA YANG KITA SOMBONGKAN?



Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan.

Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air dengan

ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras.

Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya,



"Apa yang sedang Anda lakukan?"

Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta

nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.

Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba

saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan.



Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."



Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua,

yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.



Di tingkat terbawah,

sombong disebabkan oleh faktor materi.



Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.

Di tingkat kedua,



sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan.



Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan

dibandingkan orang lain.

Di tingkat ketiga ,



sombong disebabkan oleh faktor kebaikan.



Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah,

dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.



Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula

kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun



sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi

karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.



Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan.



Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk

harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi,

begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah

berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong

tidaklah terlalu jelas.



Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan

kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam

keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan

waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang

kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa

kita memerlukan lebih banyak lagi.



Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego.



Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme

ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka).



Inilah akar dari segala permasalahan.



Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan

menuju kesadaran sejati.



Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya,

ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan.



Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah

makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual.



Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana



untuk hidup di dunia.Kita lahir dengan tangan kosong,



dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.

Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam

kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan,

label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah

"tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari

berbagai kesombongan atau ilusi ego.

Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita

lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.



Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi.

Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah.



Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.



Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam

bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun

kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik

kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada

diri kita sendiri.



Apakah Anda Pemimpin Yang Hebat?

Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.

Jika anda punya satu orang anggota saja, maka anda adalah seorang pemimpin.



Dalam bukunya yang amat terkenal, Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda, John C. Maxwell berkata, "Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi. Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi."



Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apapun, tidak berubah dan tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.



Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.



Kita mungkin juga bisa sepakat bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah Anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?



Syaratnya, mau berubah ! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak.! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan berbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.



Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris, Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen berpikir dia melihat kemerosotan Model T.



Itu terjadi tahun 1912, ketika Model T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pesiar di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.



Para montir yang ada disana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi mata gelap. Dia memandangi kilatan cat merah pada versi Model T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model T yang disayanginya. "Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali," kata para saksi mata menceritakan. "Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan. Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak! Dia merenggutkan pintu sampai copot! . Bagaimana orang itu melakukannya, saya tidak tahu! Dia melompat masuk, dan gubrak! Copot pula pintu lainnya. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke jok belakang dan mulai memukuli atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya."



Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.



Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahwa Aristoteles benar, dengan teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah. Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lainnya ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi saat itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun setelah kematiannya.



Pada tahun 1589, Galileo memanggil para professor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lainnya satu pon. Hasilnya, keduanya ternyata mendarat pada saat yang sama!



Apa kata para professor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kokoh bersemayam dalam diri mereka, para professor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat. Mereka tetap mengatakan bahwa Aristoteles benar, lalu lemparkan Galileo ke penjara dan melewatkan sisa hidupnya dalam tahanan rumah.



Pertanyaannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita segera berubah, tetap saja Anda tidak mau berubah?



Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau Anda ingin terus memimpin, maka Anda harus berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggungjawabnya pasti segera berubah. Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan mendorong pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.



Tapi terkadang ada pula sebagian pemimpin kita yang mungkin berperilaku seperti Lucy dalam kartun "Peanuts". Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, "Saya ingin mengubah dunia." Charlie bertanya, "Darimana kamu akan memulai?" Lucy menjawab, "Saya akan mulai dengan kamu!"



Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan dimanapun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. "Mereka harus lebih menjadi termostat daripada termometer," kata Maxwell, dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan Di Sekeliling Anda.



Apa bedanya? Kedua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya bisa menciptakan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.



Perubahan Apa?

John C. Maxwell dalam buku "The Winning Attitude" menggambarkan, "orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah." Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu dari tiga tahap ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan menciptakan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.



Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?



Maxwell, mengajarkan:

Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti. Abraham Lincoln berkata, "Kalau Anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda, mula-mula yakinkan dia bahwa anda sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya." Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, "Bagaimana hubungan Anda dengan para pengikut Anda?" Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.



Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka. Lee Iacocca berkata, "Kecepatan bos adalah kecepatan tim." Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya bisa pergi sejauh kita pergi. Kalau pertumbuhan kita berhenti, kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti. Karena itu mulailah belajar dan tumbuh sejak hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling anda, mereka pun ternyata tumbuh dan berubah. Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan anda. Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.



Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak,demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.



Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan, mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan. Tanpa rasa memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek. Mengubah kebiasaan dan cara berpikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.



Karena itu, kata Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager's GuideBook, "Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka. Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan. Bersikaplah lentur, terbuka dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan. Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan. Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan. Mintalah pertanyaan, komentar dan umpan balik mereka. Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan. Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.

6 Langkah Menentukan Tujuan Dalam Hidup



Semua orang di dunia ini pasti mengimpikan sukses

dalam hidupnya. Tak peduli apa pun yang dikerjakan oleh seseorang,

sukses adalah tujuan utama. Bisa jadi itu soal mengurangi berat badan

atau dalam karier. Dan langkah pertama meraih sukses adalah menetapkan

tujuan yang jelas. Banyak orang mengerjakan sesuatu tapi tak mendapat

kesuksesan hanya karena tujuan yang kurang jelas. Banyak orang tak

merancang tujuan karena mereka bahkan tak punya gagasan dari mana

harus memulainya. Jika Anda termasuk yang seperti ini, berikut

beberapa tips yang akan dapat membantu Anda untuk menemukan dari mana

harus memulai merancang tujuan.



Mulai Dengan Bermimpi dan Menuliskan Impian Anda



Yang pertama, jika Anda ingin merancang tujuan, Anda mesti meluangkan

waktu untuk membangun impian. Jika Anda tak punya impian, akan sulit

untuk menentukan tujuan dalam hidup Anda. Sayangnya, kebanyakan orang

jadi kehilangan kemampuan untuk bermimpi tentang apa yang paling

diinginkan dan membangun motivasi untuk pencapaian. Jadi, untuk

memulainya, luangkan waktu untuk bermimpi tentang apa yang paling Anda

inginkan, Anda ingin seperti apa, atau bahkan tentang apa yang ingin

Anda miliki. Begitu Anda menemukan impian Anda, selanjutnya tuliskan

semuanya dalam kertas.



Tanya 'Kenapa?'

http://www.gsn-soeki.com/wouw/



Setelah Anda menuliskan semua impian Anda, baca sekali lagi apa yang

telah Anda tulis. Saat membacanya kembali, berhentilah pada tiap-tiap

impian dan tanyakan 'kenapa Anda mengimpikannya?'. Kenapa impian ini

penting buat Anda? Jika Anda tak dapat menjawabnya dalam beberapa

kalimat, kemungkinan itu bukan hal yang benar-benar Anda impikan, dan

akhirnya harus Anda coret dari daftar.



Benarkan Ini Tujuan Anda?



Banyak orang yang sebenarnya punya impian yang dibentuk oleh orang

lain. Jadi penting untuk menemukan apa benar apa yang ingin Anda capai

adalah tujuan Anda atau tujuan orang lain. Saat merancang tujuan, jika

ternyata impian dan tujuan itu bukan yang Anda inginkan, coret saja

dari daftar.



Temukan Bagaimana Tujuan Ini Akan Mempengaruhi Kehidupan Anda



Setelah Anda membuat daftar yang benar tentang impian Anda, lihat

kembali apa yang tertinggal. Masukkan impian yang tertinggal ini ke

dalam daftar dan pikirkan bagaimana ini akan membawa pengaruh dalam

hidup Anda. Apakah mencapai tujuan ini akan membuat Anda lebih bahagia

daripada sekarang? Akankah memperbaiki rasa aman dan hubungan Anda

dengan orang lain? Apa akan berpengaruh pada keuangan Anda secara

positif? Jika ternyata impian ini tak membawa pengaruh positif dalam

kehidupan Anda, mungkin seharusnya dikesampingkan. Jika Anda menemukan

pencapaian Anda akan membawa pengaruh positif dalam kehidupan Anda,

sebaiknya memiliki motivasi untuk mengejar dan mencapai semua tujuan ini.



Kategorikan Impian Anda

http://www.gsn-soeki.com/wouw/



Sekarang persempit lagi daftar untuk menemukan tujuan sejati, bukan

hanya keinginan atau angan-angan Anda. Pada titik ini Anda perlu

mengkategorikan tujuan ke dalam berbagai golongan, tergantung dari

seberapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk mencapainya. Anda akan

memiliki tujuan jangka panjang yang membutuhkan waktu lebih dari dua

tahun untuk mencapainya, tujuan jangka pendek yang butuh waktu sebulan

atau lebih untuk meraihnya, dan tujuan yang bisa tercapai

sewaktu-waktu dari jangka waktu sebulan hingga setahun. Tapi ingat,

Anda harus punya tujuan besar, dan pastikan memiliki tujuan dalam

setiap kategori sehingga bisa secara terus-menerus berupaya meraih

tujuan itu dalam kehidupan Anda.



Rencanakan Bagaimana Cara Meraihnya



Setelah Anda membangun tujuan Anda, kini Anda perlu membuat rencana

bagaimana akan mencapainya. Anda harus selalu berusaha mewujudkan

tujuan Anda, bahkan jika itu hanya butuh sebuah langkah kecil untuk

mencapainya. Pastikan tidak berlebihan dalam mengupayakan

mewujudkannya. Sesekali dibutuhkan manajemen dan motivasi sebagai

bagian rencana Anda dan untuk melengkapi tugas ini, tapi itu pasti

akan jadi usaha yang berharga. Buat grafik pencapaian untuk membantu

Anda mencapai tujuan, dan saat Anda sudah mencapainya beri tanda dalam

grafik tersebut.



Kelihatannya begitu mudah untuk melaksanakan semua tips di atas, tapi

yang terpenting dari segalanya hanya tindakan yang akan membawa hasil

buat kita. Selamat Mencoba! (kpl/erl)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3