Minggu, 20 Februari 2011

karya

CINTA YANG BERDURI






Kisah ini bermula semenjak Susan duduk di bangku kelas 3 SD.Waktu itu jam menunjukkan pukul 15.00.Susan lantas bergegas untuk segera berangkat ke masjid.Di situlah Susan memulai belajar mengaji bersama teman-temannya.Rumah Susan menuju masjid tidaklah memakan waktu yang cukup lama.Oleh karena itu,Susan memutuskan untuk jalan kaki bersama Wati,sahabat karibnya.


Tak berapa lama Susan telah sampai di masjid.Sesampai di sana, Susan hendak mengambil air wudlu.Tapi belum sempat Susan menuju kamar mandi,tiba-tiba ada seorang cowok yang menabraknya.
“Bruuuuuuuuuukkk……….!!!!!” Susan pun duduk tersungkal.
“Eh ……..maaf ya aku nggak sengaja” ujar cowok yang menabraknya tadi.
“Oh….nggak apa-apa kok” Sahut Susan.
Cowok itu langsung menolong Susan untuk berdiri seraya bertanya “Namamu siapa?”
Susan pun dengan spontan menjawab”aku Susan,lha nama kamu siapa?”. “Namaku Tiar” tegasnya. Dari situlah timbul cinta monyet antara Susan dan Tiar.


Selang tiga tahun kemudian,Susan beranjak memasuki SMP.Susan pun langsung mendaftarkaan diri ke SMPN 3 SAMBIT.Alasan utamanya karena di tempat itu Tiar juga bersekolah.Susan senang bukan kepalang setelah mengetahui bahwa dia diterima di sekolah tersebut.Tiar juga memberi ucapan selamat kepadanya.Hari-hari Susan lalui dengan riang gembira.Tiap kali pulang sekolah,Tiar selalu menemaninya.Bahkan Tiar dan Susan berboncengan sepeda bersama.Betapa senangnya hati Susan waktu itu.Sejak saat itu,Susan mengira seolah Tiar juga memiliki perasaan sama terhadapnya.Tapi kenyataan yang sebenarnya,Tiar hanya menganggap Susan sebagai kekasih gelapnya.Susan nggak berani kalau harus menyatakan cinta pada Tiar.Dia takut kalau dia mengutarakan perasaannya,justru ia akan kehilangan Tiar untuk slama-lamanya.Sebenarnya Susan tahu kalau memendam rasa tersebut secara terus-menerus akan menyakiti dirinya sendiri.Tapi apa boleh buat,Tiar sudah punya gebetan baru.Lagipula toh Tiar hanya menganggap dirinya hanya kekasih gelapnya saja.Dan tak lebih dari itu.


Kebeulan hari itu Susan dan Tiar jalan bareng.Kemudian datang Niki(pacarnya Tiar),dengan wajah geramnya berkata “dasar cewek tidak tahu diri,ngapain kamu di sini ma cowokku?”.Susan tidak menjawab dan lantas diam saja mendengar perkataan Niki tadi.Susan sendiri juga tak mengira jika Niki segitu marahnya ma dia.


Awan saat itu sedang tak memunculkan wajah cerianya.Tampak Susan berada di depan teras rumahnya. Dia sedang merenungi kata-kata Niki kemarin,seraya berucap “apa salahku sebagai kekasih gelapnya? Apa aku ini salah telah mencintai Tiar?”Beberapa minggu berselang,Susan pun tak mendapati Tiar berada di mana. Tiba-tiba datang Wati dengan kabar yang menggemparkan hati Susan. Sungguh ironis memang. Bagaimana tidak, Wati( sahabat karib Susan) bilang kalau Tiar menghamili Niki. Dan yang tak habis Susan pikir,Tiar tidak mau tanggung jawab. Ia malah lari meghindari kenyataan itu.


Semalaman Susan meneteskan bulir air dari matanya tiada henti.Bahkan paginya,mata Susan masih tampak lebam karena bekas tangisan semalam.Susan tak habis pikir,kenapa Tiar tega melukai perasaanya.”Tiar,,,aku benci kamu(sambil mengobrak-abrik benda yang ada di sekitarnya)” teriak Susan.
‘Sabarlah,semua itu pasti sudah kehendak Alloh” kata Wati. “Ngapain kamu masih nangisin dia,dia nggak pantas buat kamu tangisi”,lanjut Wati.”Tapi aku nggak bisa terima begitu saja kenyataan ini Wat,”kata Susan.”Ya sudah menangislah,jika kamu masih merasa sedih,aku hanya bisa bilang ke kamu kalau Tiar bukanlah jodohmu” Ujar Wati.


Hari-hari pun Susan lalui dengan sedih.Di satu sisi,muncul seorang cowok berparas ganteng and cool mulai mendekati hati Susan. Namanya Harry.Susan terasa terhibur hatinya semenjak kedatangan Harry. Tak butuh waktu lama buat Harry untuk menyatakan cinta pada Susan. Waktu itu tepat di taman,Harry menembak Susan. ”Susan,maukah kau jadi pacarku?” pinta Harry. Susan pun lantas menjawab”aku nggak bisa”. “Kenapa apa aku ini kurang baik,lantas kamu nggak mau jadi pacarku?” Ujar Harry.Susan pun menjawab”bukannya begitu,tapi aku masih belum bisa melupakan Tiar. Kini Harry pergi meninggalkan Susan


Hingga suatu ketika,Wati mengajak Susan agar Susan bisa mengetahui fakta yang di lihatnya.Bahwa Tiar nggak akan pernah mungkin jadi miliknya.Ternyata benar apa yang dikatakan Wati.Susan melihat dengan mata kepalanya sendiri,Tiar sedang berpelukan dengan dua orang cewek sekaligus.










Karya:
Nama ; Reni Wulandari
No.absen ; 17
Kelas ; Xf















Karya: Rinda S.I ( XD )


Senja memerah di ufuk barat, tersenyum padaku dalam gulita kelam hidupku. Angin mendesau, menerbangkan jilbab putihku yang menari di ruang aliran udara. Ya. Ditengah bunga-bunga menunduk malu pada senja, perdu-perdu indah diterpa kilau lampu taman, terpekiklah jerit-jerit hati manusia akan sakit yang kian merajai rasa.
“Rinda, hari telah senja benar. Baiklah kita masuk. Udara malam tentu tak baik bagi kesehatanmu.” Suster Martha. Lengkapnya Martha Josephine Christmas, seorang perawat yang merindukan pengabdian seumur hidup pada Gereja sebagai seorang biarawati. Dia penganut agama Katolik Ortodoks Roma yang taat, namun dia sangat lenbut dan memahami hati setiap pasiennya. Tanpa memandang agama sang pasien.
“Senja kali ini memukau. Seolah mega merah itu dapat berkata pada bunga-bunga dan manusia.” Ucapku sambil dibimbingnya langkahku menuju kamarku di lantai tiga.
Minggu yang cerah. Suster Martha membujukku untuk beristirahat, namun aku memohon. Ingin aku bermain bersama angina dan kupu-kupu yang melayang mengepak dicelah lazuardi.
“Boleh aku duduk disini?”
“Alferd?”
“Ya. Tak lupa ternyata kau pada teman sekolahmu yang selalu melukis di jam istirahatnya.” Aku tersenyum. Ya, aku ingat. Alferd adalah teman sekelasku semasa SMP. Dan aku tak pernah lagi mendengar kabarnya sejak kelulusan sampai sekarang dimana aku telah duduk di bangku kelas X.
“Aku tak mendengar kabarmu selama ini. Kemana?”
“Aku sakit. Orang tuaku mengirimku ke Singapura untuk berobat dan bersrkolah disana. Tapi aku pulang seminggu yang lalu.”
“Mengapa? Kau sembuh?”
“Tidak. Aku tak pernah sembuh. Aku pulang karena aku ingin menghabiskan sisa umurku untuk melukis dan membuat tanah airku tersenyum dengan lukisanku.”
“Apa maksudmu tak pernah sembuh?”
“Aku adalah mayat hidup. Tapi aku ingin berguna sebelum aku benar-benar menjadi mayat.”
Kini aku tahu. Dia menderita HIV akibat kecelakaan yang menimpanya tiga tahun lalu. Dia membutuhkan banyak darah dan semakin kritis tapi stok darah rumah sakit habis dan orangtuanya tak mempunyai golongan darah yang sama dengannya. Ada seorang wanita waktu itu yang mendonorkan darah padanya, tentu cepat-cepat dokter mentransfusikan darah itu tanpa mengetahui bahwa darah itu adalah darah HIV. Di sisa hidupmya dia melukis dan melelang lukisannya. Lukisannya indah dan inspiratif. Hasil lukisan Ia sumbangkan ke yayasan social. Dia memang tetap Alferd yang kukenal dulu. Tak berubah.
“Aku juga sama sepertimu. Mayat hidup. Tak lama lagi leukemia ini akan membunuhku. Karena sakit ini adalah kematian yang hidup bagiku.”
“Kau tak bisa seperti itu. Hiduplah dan buat dunia tersenyum. Hidup adalah memberi kebahagiaan untuk dunia, bukan melulu mengais-ngais bahagia dari dunia yang semakin berduka.” Aku bangkit. Entah. Kata-kata Alferd begitu sakti mendengung melecut semangat hidupku yang semula melayang di ujung udara.
“Bawalah ini dan jelajahi dunia dengan sayap yang kau miliki. Aku melukisnya dengan darahku sendiri.” Sebuah lukisan kecil berbingkai indah dimana sepasang merpati putih kecil terkepak di celah badai darah.
Aku bangkit dan bersekolah kenbali. Seolah lukisan dan perkataan alferd menghisap habis ketakutan yang mengendap di sudut hatiku.
“Rinda, kuatkan hatimu. Alferd telah berpulang kemarin karena tubuhnya tak mampu lagi menahan himpitan pneumonia yang bersarang di paru-parunya.” Melayang rasaku mendengar suara Suster Martha lewat telepon. Hilang, seakan sesuatu hilang dengan halus dan perlahan meninggalkan kehampaan pedih yang diam-diam menyusup koyakan hatiku.
Payah aku melangkah terduduk lemah di sissi pemakaman merah terlindung rindang kamboja merah. Lemah aku letakkan rangkaian mawar putih itu di peristirahatan terakhirnya.
“Alferd, apa yang kau lakukan? Kau pergi setelah menyuruhku hidup kembali. Tapi lihatlah! Lihatlah aku! Aku tidak menangis. Aku tegar bukan? Ya. Aku tidak menangis karena aku tahu bahwa sebentar lagi akupun akan menyusulmu. “ Sesak. Seakan batu menghimpit dadaku. Berat, memaksa nafas tersengal darah.
“Alferd, aku tak bisa melukis sepertimu. Aku hanya bisa merangkai kata dengan pena dan darahku berharap dunia kan tersenyum membaca cerita-ceritaku. Tidurlah Alferd, tidurlah dalam dekap kasih Tuhan. Kau orang baik, tentu Tuhan menyayangimu. Kelak, aku janjinakan membangunkanmu biar dapat kita melangkah bersama menuju keabadian. Tunggulah aku yang yang masih menanti malaikat Tuhan yang akan menjemputku dan membawaku kepadamu..”
Aku semakin pedih dan sakit. Tamparan halilintar merobek asa yang baru bersemburat dan menumbuh. Tapi aku harus menepati janjiku padanya. Aku akan tetap menulis sampai tanganku tak sanggup bergerak, sampai darahku habis sebagai tinta yang menggores cerita-ceritaku.
“Selamat tinggal Alferd, sampai jumpa. Kau harus berjanji bahwa kau akan menungguku di depan gerbang kematianku. Tak lama lagi.”




THE END

Nama : Ulfayatul Hidayah (22)
Kelas : X.A
“Kecewa Cinta”
Hai, perkenalkan namaku Nadia Almira, aku adalah gadis yang sangat sangat pendiam dan pemalu. Aku sendiri tidak tahu mengapa diriku menjadi seperti ini padahal dulunya aku adalah gadis yang sangat periang dan memiliki banyak teman.
Hari ini adalah hari pertamaku masuk di sekolah baruku, sebenarnya aku agak sedikit canggung dan ragu saat pertama kali menginjakan kaki di sekolah ini. Tapi semua keraguanku itu ku bendung dalam hatiku, aku tak ingin membuat orang tuaku kecewa. Saat berjalan tiba-tiba ibu menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah.

“Ibu mengantar sampai di sini saja ya nak, tidak apa-apa kan?”

“Iya bu, tidak apa-apa ko”

Rasanya tak ingin aku melepaskan genggaman tangan ibuku, aku tak sanggup jika harus berjalan sendiri. Tapi aku berusaha mengubur perasaan maluku dalam-dalam dan mulai memberanikan diri berjalan di tengah kerumunan siswa siswi yang tengah menunggu bel masuk kelas.
Ketika bel berbunyi siswa siswi pu segera memasuki kelasnya masing-masing tidak terkecuali diriku. Tiba-tiba rasa tidak percaya diriku muncul ketika bu guru mempersilahkan ku untuk memperkenalkan diri di depan kelas. Dengan agak terbata-bata aku berusaha untuk memperkenalkan diri di depan kelas

“Pe.. perkenalkan nama sa.. saya Nadia Al.. almira, sa.. saya pindahan dari SMA Pertiwi Surabaya, alamat saya ja.. jalan Dipenogoro no.15, terima kasih.. “ jelasku.

Selesai perkenalan, dengan wajah menunduk aku kembali ke tempat dudukku dan bu guru pun memulai pelajarannya.
Lima jam pelajaran berlalu, bel istirahat pun berbunyi. Semua siswa langsung behamburan keluar kelas. Tetapi tidak untukku, selama istirahat aku hanya duduk di dalam kelas sembari membaca novel kesyanganku. Tiba-tiba seseorang menyapaku dari belakang sambil mengulurkan tangannya. Aku kaget dan langsung membalikkan badan.

“Hai nadia, namaku Reno!”

“Aku Nadia. . . . “ jawabku dengan pelan.

“Oh ya’ aku ketua kelas di sini jadi kalau ada perlu temui saja aku. Aku selalu ada bagi yang membutuhkan “ jelasnya.

“. . . . . . . . . . “ aku hanya membalas dengan senyuman.

“kenapa tidak ke luar kelas? Emang nggak bosen ya di kelas terus, sendirian lagi”

“tidak apa-apa, aku cuma ingin sendiri saja” jawabku singkat.

Selama jam istirahat Reno terus mengajakku mengobrol dan menceritakan seluk beluk sekolah ini, tapi sebaliknya aku hanya menjawab dengan singkat dan pelan di tambah dengan senyuman, saat bel masuk berbunyi dengan cepat Reno berlari menuju kursinya, mungkin dia takut teman-temannya tahu kalau selama istirahat ini dia bersamaku.
Saat pulang sekolah tiba-tiba Reno menepuk pundakku.

“Nad pulang bareng yu’ kita kan searah pulangnya??” tawar Reno.

“Tidak, terima kasih aku sudah di jemput, aku duluan ya ren.” tolakku.

“Ya sudah deh. . . dengan tersenyum Reno meninggalkanku.

Ketika sampai di rumah aku langsung di sambut dengan senyum manis ibuku.

“Bagaimana sekolah barunya saying??” Tanya ibu.

“Seperti biasa bu, aku tetap saja seperti dulu tidak berubah.” jawabku.

“Sabar ya saying, ibu ngerti apa yang kamu rasakan.”
Senangnya bisa bersandar di pelukan ibu, memang benar pelukan seorang ibu bagaikan obat penenang. Begitu damai hati ini rasanya.
Tidak terasa hari berganti hari bulan berganti bulan, aku sudah mulai bias beradaptasi di sekolah baruku, sedikit demi sedikit rasa tidak percaya diri dan kecanggunganku hilang. Itu semua berkat Reno, dia selalu men-support aku dalam segala hal termasuk dalam mencari teman dan cara beradaptasi di sekolah ini. Aku bersyukur bias berteman dengan Reno. Sekarang aku bias berubah, Nadia yang sekarang bukan Nadia yang pendiam dan pemalu melainkan Nadia yang periang dan percaya diri.
Tetapi perlahan rasa sayangku sebagai teman pada Reno berubah menjadi rasa cinta yang begitu dalam. Aku sempat tidak percaya mengapa aku bias menyukai Reno tapi itulah kenyataanya. Hatiku selalu deg-degan saat bertemu dengannya. Selama berhari hari aku menyembunyikan perasaanku. Tanpa aku sangka sebelumnya tiba-tiba Reno mengajakku ke taman sekolah dan mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dan ingin menjalin sebuah kisah cinta denganku. Aku sebenarnya tidak ingin itu semua terjadi tetapi tanpa kusadari mulutku berkata “ ya. . aku juga mencintaimu Reno. . .”.
Tepat pada saat hari jadianku yang ke 3 bulan aku memutuskan hubungan cintaku dengan, tidak hanya hubungan cintaku tetapi pertemananku dengan Reno aku sangat kecewa pada padanya. Tanpa sengaja aku mendengar perbincangan Reno dengan teman-temannya. Jadi selama ini dia hanya mempermainkanku dia membohongiku, aku benar-benar marah dan kecewa padanya. Rasa cinta dan sayangku padanya selama ini hanya sia-sia, dia tidak benar-benar mencintaiku, dia hanya menjadikan diriku sebagai korban taruhannya.

--TAMAT--



Nama : Ulfayatul Hidayah
Kelas : X.A


“Garis Kerinduan Dalam Cinta”



Teman temanku bilang aku gila, ya memang aku gila tapi bukan berarti
tidak waras. Semua itu berawal setahun yang lalu saat ada ajang pencarian
bakat di TV. Aku tergakum kagum pada sosok seorang anak lelaki berusia 13 tahun, dia bernama Mario Stevano Aditya Haling. Saat pertama melihat dia di layar televise aku benar benar langsung jatuh hati padanya. Matanya yang indah dan sayu serta ketampanannya sukses membuatku terbius olehnya tetapi terlepas dari itu semua, suaranya yang lembut dan alunan gitanya yang merdu mampu membuat semua orang larut dalam setiap kata yang dinyanyikannya.

Aku selalu merelakan waktu akhir pekanku bersama teman teman hanya untuk melihat penampilan dia di salah satu panggung pencarian bakat di TV. Walau teman temanku sering jengkel dengan tingkahku tapi aku tidak perduli. Suatu hari aku ditawari salah satu temanku untuk masuk sebuah komunitas yang mereka beri nama RISE, isinya adalah para remaja yang memilii idola yang yang sama yaitu Mario, aku pun dengan senang hati menerima tawaran itu. Selama menjadi anggota aku mendapat banyak pengalaman dan teman yang banyak dari berbagai daerah di nusantara dari mulai pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi sampai daratan Flores. Kami bisa saling berbagi informasi dan saling curhat curhatan tapi nggak sampai curhat masalah pribadi lho, hehe . Ya walaupun aku tidak bisa bertatap muka secara langsung dengan mereka tapi aku merasa nyaman bisa kenal dan berteman dengan mereka. Itu mungkin karena kami memiliki satu tujuan yang sama.

Kini tak ada lagi syair syair indah yang menghiasi hidupku. Aku selalu berharap semoga dia bisa muncul kembali di layar kaca televise. Aku sangat rindu padanya, aku ingin mendengar kembali suara suara lembutnya. Terkadang terbesit dalam khayalanku untuk bisa memilikinya tapi aku sadar itu takkan mungkin terjadi, aku dan dia sangatlah berbeda dan terpaut jarak yang sangat jauh kita takkan mungkin bersatu. Selama ini aku hanya bisa berharap dan berharap untuk bisa bertemu dengan dirinya. Mungkin bertemu dengannya adalah bunga tidur semata bagiku. Tapi tak ada salahnya ku berharap sesuatu yang tak mungkin kudapatkan saat ini. Karena kata orang cinta itu tak harus memiliki .

Walaupun dia tidak pernah bertemu denganku bahkan mengenalku sedikit pun aku akan selalu mengidolakannya karena dia memberikan banyak sekali inspirasi untukku dan membuatku percaya tak ada yang tak mungkin di dunia ini jika kita terus belajar dan berusaha. Aku akan belajar mengikis satu persatu harapan harapan dan menjadikan harapan itu menjadi indah pada waktunya.


--Tamat--


















CINTA BIRU

Titihan Warna menghubung jadi satu
Di sekian jumlahmu tak Menentu
Hingga AKU Terayu Olehmu
Dan Berharap atas Sesuatu……………
Bermula pada Hatiku……..
Yang Terkecoh Olehmu,…….
Bayang-bayang yang Tergerakkan
Nampak Jelas Cahya Biru Muda
Terbentang Luas Tanoa NODA.
Hanya Jejaknya Yang Selalu Kukenang
Di antara ceceran yang berserakan……………….
Kupilih Biru dari pada Kelabu
NAMUN apa DAYAKU…..
CINTA ITU TELAH BERLALU……………….
DAN TAK MAU TERBURU NAFSU
KAU TINGGALKAN DAKU……………
SEORANG DIRI TERMANGU-MANGU
DAN TERKAPAR DI PANGKUANMU
MESKI CINTA BERUBAH BIRU
MEMANG KITA BELUM MENDAPAT RESTU
ATAS SEGALA SESUATU






By, Sugiman Rustan, 1991











Siasat Cantik Pengguna Jilbab



Memilih untuk berbusana muslim bukan berarti tak bisa ikut tampil modis dan menarik.
Kami berikan panduannya:

WAJAH
Kerudung membuat frame wajah menyempit karena rambut yang tadinya jadi penyeimbang wajah kini tak ada lagi. Siasati dengan pemilihan warna kerudung berwarna polos, seperti hitam, coklat, atau putih. Untuk gaya riasan, hindari membentuk alis dengan garis yang tegas dan tebal karena cara ini justru bisa 'mempersempit' wajah.

RAMBUT
Rambut yang terus-menerus ditutupi kerudung biasanya jadi mudah rontok dan gampang berminyak akibat sirkulasi udara di kulit kepala kurang lancar. Untuk mengatasinya, Anda perlu memberi perhatian lebih pada mahkota tersebut.

Cucilah rambut setiap hari dengan sampo yang ringan lalu berikan conditioner di bagian ujung rambut serta tonik rambut untuk mencegah kerontokan. Setiap ada kesempatan, bukalah jilbab lalu angin-anginkan kulit kepala. Lakukan perawatan rambut di salon minimal seminggu sekali.

BUSANA
Seiring banyaknya pengguna busana muslim, kini tak sulit lagi mencari busana yang modern dan chic, bahkan mengikuti tren. Untuk pakaian kerja, sebenarnya pakaian formal yang biasa dipakai untuk ke kantor bisa dikenakan sebagai busana muslim. Tinggal pilih yang sesuai kaidah saja, misalnya rok panjang, kerah menutup leher, dan sebagainya. Pilih warna kerudung yang senada. Jangan ragu untuk bereksperimen dengan beragam vest, cropped jacket, serta aksesori.
Siasat Cantik Pengguna Jilbab
BUAH RINDU 121193



Biarlah hariku di makan waktu
Biarlah setumpuk rinduku
terhempas angin lalu
Asal Kau dan Aku tetap bersatu
Biarlah rentangan jarak diantara Kita……
Namun Kita tahu…..
Awal kita Mencipta Rindu
Dan Rinduku-rindumu turun
bersama mentari Pagi
Yang menggantikan kesejukan
dan kenyamanan
Pada Bara Asmara yang melanda.
23 Ramadhan 1413..
Bermula dari ketulusan Hati yang membara,
Tuk mengucap segala rasa yang
teranyam dalam Lubuk hati…
Rinduku-rindumu turun
bersama Embun,
dan mentari yang menggantikan
Kesejukan, dan kehangatan pada bara Asmara.







Mengatasi Stress di Tempat Kerja


Stres. Tekanan. Takut dan cemas seringkali muncul mewarnai suasana kerja di kantor. Ini akan mempengaruhi efektivitas kerja. Bisakah kita menghindari munculnya stres pada lingkungan kerja?..Jawabnya tidak. Stres adalah tantangan untuk kita, agar kita mampu melakukan yang terbaik sesuai dengan yang kita mampu. Berikut adalah tips dari Bill Delano, pengasuh konsultasi di Internet untuk mengatasi stres di tempat kerja.
Tenang
Ambil nafas panjang dan cobalah untuk sedikit santai dan. Tenangkan diri Anda.
Kenali Permasalahan
Cobalah untuk mengenali akar permasalahan , apa yang membuat Anda resah. Dengan begitu Anda akan dapat mencari cara penyelesaiannya.
Terapi
Ikutlah kelompok sosial sehingga Anda dapat melupakan sejenak tekanan yang menghimpit Anda. Ini akan menjadi terapi yang murah untuk Anda.
Hadapilah
Daripada Anda menghindar dari permasalahan yang ada, sebaiknya hadapi dan selesaikan agar tidak mengganggu lagi.
Atur jadwal
Buatlah jadwal mana yang harus diprioritaskan lebih dulu dan mana yang dapat ditunda. Perkecil peluang untuk mengalami stres dengan mempersibuk diri sendiri.


Diskusi
Diskusikan masalah yang menyebabkan stres dengan atasan, teman atau psikolog
Curhat
Ceritakan masalah yang Anda hadapi peda keluarga atau pasangan. Mereka pasti akan membantu mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah Anda.
Buat keseimbangan
Stres muncul karena Anda terlalu fokus pada pekerjaan, bagilah waktu antara pekerjaaan dan keluarga. Melakukan hal-hal bersama keluarga akan membuat Anda segar kembali.
Pahami tugas dan kewajiban Anda
Mungkin inilah yang jelas-jelas akan mengurangi stres yang Anda alami ditempat kerja. Dengan mengetahui kewajiban, Anda akan mampu mengatur waktu dan rutinitas sehingga peluang stres akan makin kecil.





















Arti Cinta Sejati”
Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa
p”RsahaBata N Q_ta sperty tGn & mata
aPaBiLa tangan t”rluka maka mata mEnAngIZ
DN aPabiLa maTa menaNgiZ makA tanGan mEnghapus ny
Pagi yang cerah ketika bersamamu
malam yang indah ketika mendengarkan suara mu
hati yang bahagia ketika memiliki mu selamanyarya
Dengan senyuman, kau luluhkan hatiku…
dengan senyuman, kau perlihatkan dunia padaku….
hanya dengan sebuah senyuman….
kau berikan aku kesadaran…
begitu indah cerita hidupku oleh senyummu…..
i love u,
Cinta dapat membuat qta melayang tinggi di langit biru yang dipenuhi oleh awan penyejuk hati…….,namun terkadang cinta jua yang membuat qta menjadi insan yang terbelenggu….
cinta itu sumber kebahagiaan, sekaligus sumber kesedihan! karena pada saat kita mendapati cinta itu, maka saat itu lah kebahagiaan muncul..tapi pada saat cinta itu hilang maka saat itulah cinta berubah menjadi kepedihan
ciNta itu….ketiKa qu sLh..
dia sLaLU maafkN qu..
ketIka qu mrH…
dia sLaLu trsenYum untukKu,,keTika qu sAkiti,,
dia sLaLu beriKn yg trbAik untuKKU…ketiKa aq perGi,,
dia msH ‘n akn sLaLu menunGGuku,,dan ketika cinta itu trgantikan yg Lain…..
CintanYa msH ‘n sLaLU untukku…krn….
diaLh cinta itu…….!!!
By: Amin Hidayati XF

BUMI PERTIWI”


Ibu pertiwi kembali bersedih, 
Para manusia seperti sudah tak berdaya,
Melihat bumi ini hancur tak karuan,
Air matapun tak hentinya mengalir. . . .

Bencana kini dimana-mana,
Air di laut bag meluapkan amarahnya,
Gunung-gunung mengeluarkan isi perutnya,
Hutan-hutan mulai tak terurus keindahannya,

Tuhan mungkin kau kami abaikan,
Tak kami dengarkan semua peringatan-Mu
Kau boleh murka. . . . kau boleh marah pada kami,
Kami tlah lalai menjaga semua tititpan-Mu,

Tapi. . . . .
Berikanlah kembali kami kesempatan,
Biarkanlah kami menyongsong matahari,,
Ijinkanlah kami menyalakan harapan yang padam. .

Haii kawan semua !!!!!!!!!!
Marilah kita bangkit dari semua keterpurukan ini,
Kita rangkai kembali kehidupan ini,,
Tetap semangat dan jangan bersedih. . . . . 

uLfayatuL hidayah

BAYANG HARAPAN



Usai sudah harapan yang aku ingin
Langit mendung seakan mengerti perasaanku
Sabg Fajar menyembunyikan sinarnya
Angin berhenti melihat kesedihanku

Yang aku inginkan hanyalah dirimu
Andai aku bias terbang bersamamu
Tak pernah lelah ku petik bintang untukmu
Untuk ku jadikan penerang hidupmu

Langkah langkah sepi kulewati
Hari demi hari ku hadapi
Indahnya dunia membuatku tersenyum’
Detik demi detik ku mulai lupakan sedihku

Andai kita tak dapat bertemu kembali, tapi. . .
Yakinlah kau slalu di hatiku selamanya
Aku percaya kita bias bersatu
Hanyalah kau SAHABAT TERBAIKK

1 komentar:

Virginia_Alexander_EC mengatakan...

Thanks for posting my short story again, altought, my story (pena-pena darah) rather strange, isn't it?
Warm regards,
V. Alexander

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3