Selasa, 15 Februari 2011

CINTA MONYET

Rara adalah gadis yang sangat Zaky kagumi. Cinta yang ditunggu Zaky selama ini, karena Rara adalah seorang gadis yang baik, pintar dan suka menolong. Zaky adalah lelaki yang baru berusia 13 tahun. Pada awal Rara bertemu dengan Zaky, belum pernah ada perasaan sedikit pun yang muncul. Bahkan perasaan itu biasa saja. Mereka berdua merupakan murid SMP di salah satu sekolah negeri.
Pada saat pertama kali mereka masuk SMP, mereka kebetulan berada dalam satu kelas. Karena baru awal, mereka berdua sama-sama tidak saling menyapa, tersenyum pun tidak. Namun lama kelamaan mereka pun saling tersenyum ketika bertemu. Dan pada suatu ketika denah tempat duduk kelas pun sudah diatur oleh wali kelas. Tempat duduk Zaky lumayan dekat dengan Rara. Karena Zaky termasuk orang yang iseng, jadi Zaky sering sekali mengedipkan matanya seraya memanggil nama Rara. Rara pun tersenyum heran sekaligus malu. Karena hal itu setiap hari dilakukan Zaky ketika berada di dekat Rara.
Ketika di dalam kelas, Zaky sering sekali memperhatikan senyum dan wajah Rara. Ternyata Rara lumayan cantik, senyumnya pun kelihatan manis. Ketika Zaky berada dekat Rara, dia merasa sangat nyaman dan juga ketika berada dekat Zaky, tiba-tiba jantung Rara berdegup kencang seperti mau copot. Zaky bingung, mungkin Zaky mulai menyukai Rara. Sehingga menimbulkan kesempatan Zaky untuk meminta nomor HP Rara.
“Hay, boleh nggak saya minta nomor HPmu?” tanya Zaky.
“Boleh saja.” Jawab Rara.
“Rara pun langsung menyebutkan nomornya satu per satu dan Zaky pun langsung mencatat di HP miliknya, sambil berkata, “Terima kasih.”
Tiba-tiba Zaky pun menawarkan nomor HP miliknya. “Kamu mau nomor HP punya ku juga nggak?” tanya Zaky.
“Oh, tenang aja. Aku dah punya nomor kamu kok!” jawab Rara.
“Ha! Kok kamu bisa tahu nomor HPku?” tanya Zaky.
“Ada dech… ingin tahu aja.” Jawab Rara.
Zaky pun merasa heran. Namun dalam hatinya senang karena Rara sudah mengetahui nomor HPnya tanpa diberi tahu sebelumnya oleh Zaky.
Waktu pun terasa sangat begiut cepat. Lama kelamaan Zaku pun memberanikan diri untuk mendekati Rara. Zaky mulai mengajak Rara ngobrol, mulai dari hal candaan sampai dengan yang serius. Zaky sangat merasa nyaman bila berada di dekat Rara dan menurut Zaky, Rara pun juga merasakan yang sama. Tapi itu baru dugaan Zaky saja. Jadi Zaky terus berusaha untuk mendapatkan Cinta Rara. Setiap bel istirahat berbunyi Zaky pun mendekati Rara. Entah apa yang Zaky bicarakan yang penting dekat dengan Rara, Zaky pun sudah senang. Karena Rara mempunyai seorang sahabat yang lumayan dekat dengan Rara. Jadi Zaky meminta bantuan sahabatnya Rara. Namun itu hanya sia-sia saja. Karena Rara orangnya termasuk tipe orang yang tertutup, jadi sangat sulit untuk mengetahui hal-hal pribadinya. Terutama dalam segi percintaan. Namun itu malah membuat Zaky tertantang dan termotivasi untuk mendapatkan Rara.
Suatu ketika, saat Rara sedang lewat di depan Zaky, tiba-tiba gelang Rara terjatuh yang pada waktu itu terlepas dari tangan Rara. Zaky pun langsung mengambilkan gelang tersebut. Tak sengaja tangan Rara yang sedang mengambil gelang tersebut terpegang oleh Zaky yang hendak mengambil gelang tersebut.
“Maaf…” kata Rara dan Zaky bersamaan.
“Mereka berdua pun mengangkat tangan mereka masing-masing. Mereka berdua terlihat sangat malu, dengan wajah yang sangat merah merona. Karena dengan kejadian itu, Rara dan Zaky pun bertambah akrab.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan pun terus berlalu. Hampir sekitar 3 bulan Zaky menyimpan cintanya kepada Rara. Tapi Zaky tidak mau mengungkapkan perasaannya. Ketidakberanian Zaky untuk mengungkapkan perasaannya pun bertambah karena orang tua Zaky tidak memperbolehkan Zaky untuk berpacaran. Orang tua Zaky tidak ingin Zaky menjadi malas belajar akibat pacaran. Karena orang tua Zaky yang sifatnya offer protective, terhadap anaknya. Dia sering mencari tahu pergaulan Zaky selama berada di luar rumah.
Perjuangan Zaky untuk mendapatkan cinta Rara pun belum berakhir. Zaky tidak malu mengungkapkan perasaannya kepada teman dekatnya. Ia sering sekali meminta tips-tips dari teman dekatnya untuk mendekati Rara. Berbagai ide pun muncul. Zaky menanyakan bagaimana cara mengutarakan hatinya kepada Rara. Beruntung Zaky mempunyai sahabat yang sangat perhatian sama dia. Sahabat-sahabat Zaky pun memberikan ide-ide yang cemerlang membantu Zaky untuk mendapatkan hati Rara dan sahabat-sahabat Zaky pun memberikan dukungan semangat agar ia mampu mengungkapkan perasaannya kepada Rara. Tapi Zaky masih terlalu malu untuk mengungkapkan perasaannya. Zaky juga masih memikirkan belajarnya karena ia tidak ingin mendapatkan nilai jelek. Jadi Zaky lebih mengutamakan belajarnya ketimbang soal cinta. Setiap hari ketika obel istirahat berbunyi Zaky selalu mendekati Rara dan pesan singkat lewat HP pun sangat sering dikirim oleh Zaky. Hal itu membuat hubungan Rara dan Zaky sangat dekat. Karena sudah terlalu lama Zaky memendam perasan itu dan karena dorongan motivasi dari sahabatnya, Zaky pun tidak memperdulikan larangan orang tuanya untuk berpacaran, sehingga Zaky mengajak Rara untuk bertemu di gerbang sekolah pada saat pulang sekolah. Bel sekolah pun berbunyi. Dengan raut wajah yang gugup, Zaky menunggu kedatangan Rara. Beberapa menit kemudian Rara pun datang. Rara pun langsung menghampiri Zaky. Tanpa basa-basi Zaky pun memberanikan diri menyatakan cintanya kepada Rara serta memintanya menjadi pacarnya dengan wajah malu-malu. Namun Rara belum menjawabnya. Rara merasa terkejut terhadap tindakan Zaky. Rara langsung bergegas pulang tanpa memperdulikan Zaky.
Keesokan harinya, pagi-pagi di kelas, Rara mendekati Zaky. Rara meminta maaf atas kejadian kemarin dan berkata kalau Rara belum siap untuk berpacaran dengan alasan umurnya masih terlalu kecil. Rara belum terlalu dewasa untuk mengerti artinya pacaran. Ditambah lagi orang tua Rara yang tidak setuju kalau Rara berpacaran. Keesokan harinya walaupun Rara menolak Zaky, tapi hubungan mereka berdua semakin lebih akrab. Namun timbul rasa penasaran Zaky yang merasa bingung. Apakah Rara juga mencintainya atau tidak. Zaky pun mulai menggunakan beberapa cara untuk mengetahui perasaan Rara kepadanya bagaimana.
Cara yang pertama, Zaky mencoba mendekati teman wanitanya ketika ada Rara, berharap agar Rara cemburu. Namun raut muka Rara biasa saja. Rara seakan-akan tidak peduli apa yang dilakukan oleh Zaky. Tentu saja, hal ini membuat Zaky kesal.
Keesokan harinya Zaky mencoba cara yang lain. Ketika Zaky bertemu Rara, Zaky pun pura-pura tidak melihat dan Zaky pun tidak menegur Rara sama sekali. Zaky hanya berjalan seperti tidak ada orang yang ditemuinya. Bahkan biasanya setiap bel istirahat Zaky selalu mendekati Rara tapi Zaky malah langsung pergi ke kantin tanpa menyapa Rara sedikitpun dan dia sekarang jarang mengirim pesan singkat kepada Rara lagi.
Ternyata cara itu berhasil. Rara yang merasa janggal. Rara pun langsung mendekati Zaky. Rara bertanya heran, “Mengapa kamu seolah-olah menjauhi saya?”
Tapi Zaky masih saja sok jual mahal. Zaky tidak mau menjawab pertanyaan Rara. Malah ia langsung pergi meninggalkan Rara.
Ketika sampai di rumah, Zaky pun memikirkan kejadian tadi di sekolah. Mengapa ia membenci Rara. Setelah menyadari itu, Zaky langsung mengambil HPnya. Ia lalu mengirimkan pesan singkat. Tapi sayang pesan singkat itu tidak bisa dikirim, karena pulsa Zaky ternyata habis. Zaky pun hanya bisa melamuni kesalahannya yang telah ia perbuat. Zaky pun tidak sabar menanti hari esok. Ia ingin cepat-cepat meminta maaf kepada Rara. Ayam pun berkokok. Pagi pun telah datang. Zaky cepat-cepat berangkat ke sekolah. Lalu ia masuk ke dalam kelas dan mencari Rara. Tidak terduga Zaky menemukan Rara sedang jalan dengan cowok lain. Sebut saja namanya Rudi. Hati Zaky sangat sakit dan terluka. Zaky sangat menyesal karena sudah mengacuhkan Rara.
Hari pun berganti hari, Zaky yang kelihatannya sangat frustasi hanya berdiam saja di kelas dan sering ia melamun. Betapa ia sakit hatinya. Ternyata Rara telah jadian dengan lelaki yang dilihatnya hari itu. Dalam hati Zaky bertanya, bukankah orang tuanya melarangnya untuk pacaran. Zaky pun mencari tahu ternyata itu hanya alassannya saja untuk menghindar dari Zaky. Rara sama sekali tidak menyukai Zaky. Namun Zaky berusaha tegar. Ia berfikir bahwa apabila ia menyukai seseorang, bukan berarti bahwa ia harus memilikinya. Menurut Zaky, yang penting melihat orang yang disayanginya bahagia.
Karena mendengar nilai ulangan Zaky yang semakin menurun dan Zaky mendapat teguran dari guru dan orang tuanya. Sehingga membuat Rara prihatin. Rara merasa tidak tega melihat kondisi Zaky. Tapi lama kelamaan Rara memendam perasaan kepada Zaky. Rara sangat sedih melihat kondisi Zaky. Rara menyadari bahwa rasa sayang Zaky kepada Rara begitu besar. Rara menyadari bahwa Rara tidak menyukai Rudi. Rara menerima cinta Rudi karena Rudi adalah orang yang suka menolong Rara dalam mengerjakan PR. Rudi juga rajin mengantar jemput Rara karena rumah mereka beredakatan. Jadi Rara menerima cinta Rudi atas dasar kasihan saja.
Karena tidak tahan dengan kondisi Zaky, Rara pun memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya. Zaky pun terkejut dan curiga, mungkin Rara Cuma mempermainkan perasaannya saja. Karena Zaky tahu kalau Rara sudah mempunyai cowok. Karena Zaky termasuk lelaki yang penyabar. Ia pun mau mendengarkan penjelasan Rara. Rara pun menjelaskan tentang hubungannya dengan Rudi yang didasari oleh rasa kasihan. Zaky pun masih belum percaya. Rara pun menjelaskan lagi kalau Rara mencintai Zaky. Karena melihat kesungguhan Rara, Zaky pun percaya kepada Rara. Namun dalam hati Zaky, ia mengkhawatirkan perasaan Rudi. Pastilah apabila menjadi Rudi, hatinya pasti terasa sakit. Zaky pun menyuruh Rara untuk meminta maaf kepada Rudi dan tidak boleh melakukan perbuatannya lagi.
Keesokan harinya Rara pun menemui Rudi. Rara meminta maaf kepada Rudi bahwa Rara tidak pernah mencintainya. Rara menerima cinta Rudi cuma karena rasa kasihan. Rudi sangat terkejut. Syukurnya Rudi tidak marah dan memakluminya, karena cinta itu tidak bisa dipaksakan.
Rara dan Zaky merasa lega. Dan Rara terus meminta maaf kepada Rudi karena Rara merasa tidak enak. Mereka berdua pun berpacaran. Namun ada masalah karena orang tua Zaky tidak menyetujui kalau Zaky pacaran. Sampai akhirnya mereka pun menjalani pacaran secara backstreet, hubungan secara diam-diam. Tidak terasa pacaran secara backstreet sudah mereka jalani selama 2 minggu. Namun karena Rara dan Zaky cintanya hanya merupakan cinta monyet, maka timbullah kejenuhan antara mereka berdua. Kejenuhan itu membuat mereka saling emosi. Timbul rasa egoisme antara mereka. Mereka pun sering bertengkar apabila ada masalah kecil. Namanya saja cinta monyet, rasa cinta yang timbul hanya sementara dan dijalani bukan dengan keseriusan. Suatu hari mereka bertengkar hebat karena ketahuan Zaky jalan dengan seorang wanita. Padahal itu hanya sepupunya Zaky sendiri. Namun Rara tidak mau mendengarkan penjelasan Zaky. Pada akhirnya mereka saling mengakatan kata PUTUS.
Keesokan harinya di sekolah mereka saling memasang muka masam. Mereka saling tidak menegur. Sialnya pada saat pelajaran geografi mereka digabungkan dalam satu kelompok. Mereka duduk berjauhan. Karena keusilan teman-teman, mereka pun duduk berdekatan. Raut muka mereka pun sangat kesal, tapi di dalam hati mereka sangat senang. Dalam hati mereka masih tersimpan rasa sayang. Ketika kelompok mereka sedang berdiskusi, tiba-tiba pensil Rara terjatuh, dengan sigap Zaky mengambilkannya. Tak sengaja Rara memegang tangan Zaky, mereka pun malu-malu. Walaupun mereka diam-diaman tapi di dalam hati mereka sangat senang.
Pada malam harinya Rara pun memikirkan kejadian tadi di sekolah. Tiba-tiba Zaky mengirimkan pesan singkat tentang permintaan maaf darinya. Rara pun memaafkan Zaky.
Akhirnya mereka pun berbaikan dan tidak menyinggung soal pacaran lagi. Karena mereka sadar bahwa mereka berdua hanya menjalani hubungan masih dengan emosi. Jadi mereka berdua memutuskan hanya untuk menjadi sahabat. Karena sahabat tidak mengenal kata PUTUS.

TAMAT

Nama : TRI SUSANTI
Kelas : XE
No. : 21
Akhir Sebuah Mimpi

Masih terlukis dibenakku semua kisah pilu yang menghancurkan hatiku . 1 Tahun telah berlalu, mungkin itu waktu yang cukup untuk melupakannya. Namun semua itu tak seindah yang kubayangkan. Semakin lama luka itu membekas, semakin keras jeritan hatiku. Kata-kata indah yang terlontar dari bibirmu hanyalah omong kosong, air mata yang membasai pipimu adalah air mata buaya. Aku tak butuh itu yang kuingin darimu hanyalah kejujuran. Tapi kamu tak pernah sedikitpun merasakan apa yang aku inginkan.

Semenjak kita duduk di bangku SMP kelas 3, jalinan pertemanan yang kita mulai begitu indah, terasa seperti di Kuta, Bali. “Huh……khayalan tingkat tinggi”. Tapi kenyataannya memang betul, baru sebentar aku mengenalmu, hatiku terasa akrab dengan suasana hatimu. Entah apa yang selalu terlintas dalam fikiranku. Namun, tak pernah aku mengartikannya itu adalah cinta. Hari-hari yang kita lalui bersama adalah awal semangat hidupku kedepan. Senyummu berikan lambang keceriaan hatiku. Bagiku kau pelangi yang memberi warna dalam hatiku.

Namun setelah lama kita berteman kita berteman , kedekatan yang selama ini kita jalin kamu anggap itu cinta. Kamu salah !!! aku Cuma ingin berteman dengan mu, memberi perhatian, kasih sayang hanya sebatas teman. Tapi kenapa kamu salah pengertian? Tak ku sangka apa yang selama ini di fikiran mu hanyalah cinta karena keegoisan hatimu. Kamu fakir apa yang kau sebut itu cinta membuat aku senang? Kamu benar-benar salah!!! Justru itu yang membuat peteka dalam hidupmu, aku benci setelah tau isi hatimu. Entah apa yang ada di fikiranmu, dengan PD nya kamu bilang “aku mencintaimu, seumur hidipku. 6 tahun lamanya aku menantikan cintamu , selama ini kamu yang ku sayang dan kucinta. Kamu adalah orang yang tepat singgah di pelabuhan hatiku”. Kamu terlalu berharap mendapatkan cintaku . Entah mengapa pikiranmu terpengaruh oleh keegoisan hatimu . Seharusnya kamu sadar bila aku benar-benar membencimu ,tapi kenapa kamu malah berusaha lebih dekat denganku. Asal kamu tahu pintu hatiku ini tertutup rapat untukmu dan takkanku buka walaupun celah-celah kecil. Sebesar apapun pengorbananmu ke aku , sebesar itulah kebencianku padamu.

Malam itu tepat dihari ultahmu kamu mengirim pesan singkat di hp ku, sebuah kata-kata yang benar-benar nyakitin hatiku.” Hari emang special bagiku, namun bila tak ada kamu disisiku tak kan ada hari specil dalam hidup ku.” Setelah aku membaca sms mu, hatiku benar-benar panas!!!! Semua kenangan yang pernah kita lalui ku hapus dan ku kubur dalam-dalam di hatiku. Sekejap aku berfikir, apa yang ku lakukan ke kamu adalah salah. Entah malaikat siapa yang mengubah kebencian ku pada mu. Ku ambil hp dan ku tulid ucapan selamat ultah ke kamu, tak berapa lama sms ku kamu balas. Bukan ucapan trimakasih yang ku terima tapai kamu malah berkata “aku mencintaimu, jadilah pendamping hatiku”. Namun hatiku tak merasa marah. Apa yang sebernarnya yang terjadi pada ku? Kenapa aku jadi selembut itu ke kamu? Hem……..masa bodo!! Ya…. Itu juga masa lalu. Sekarang kan aku dah baik lagi ke kamu . tak berapa lama sms kamu ku balas. “ tunggu jawaban ku sampai kita selesai UAN.” Setelah itu aku masih berfikir, apa yang terjadi pada ku? Namun tak juga terjawab pertanyaan itu.

Beberapa minggu sebelum UAN banyak tugas-tugas yang harus aku selesaiin. Semua kebingungan ku karma mu hilang seketika, aku bodoh ngapain aku haru mikirin hal-hal yang nggak penting itu. Huh. …… Cuma buang-buang waktu. Namun disaat hatiku sudah tenang seperti kita berteman dulu, tiba-tiba perasaanku kembali sakit tersobek-sobek. Kamu bilang ke temen ku kalau aku pacarmu? Dasar kamu tukang bohong . Sapa bilang kita sudah pacaran? Semenjak aku tau itu, hatiku yang semula baik , lembut ke kamu. Kini menjadi duri-duri tajam yang merobek hati mu dan mulut mu yang manis bagai serangga.

Aku dan temen-temen mendapat tugas praktek Bahasa Indonesia yaitu drama. Pembagian kelompok dibagi oleh guruku. Sial….. aku satu kelompok denganmu ? Semua yang tak di harapkan terjadi. Kalau aku nolak, aku nggak bias lulus. Terpaksa dech….!!! Satau minggu setelah pembagian kelompok itu, aku mengadakan belajar kelompok setelah pulang sekolah . Tpi ternyata hasilnya nol. Nggak ada kesepakatnan, benar-benar….. terpaksaaku satu kelompok dengan kamu.Ini hanya demi kelulusanku. Huh… aku nggak bias konsentrasi . Hanya emosi yang terus menyelimuti hatiku. Malamnya kamu sms aku, kamu bilang nggak usah nglibatin urusan pribadi dengan sekolah. Gampang banget kamu bilang gitu, emang dasar kamu nggak punya hati. Tanpa haru nunggu setelah UAN aku bilang “mggak ada lagi harapan untukmaku nggak bakalan terima cinta mu .” Aku tau apa yang ku lakukan itu salah.

Keesokan harinya, Aku dikadsih nadkah drama. “ Hah….. gila !!!” aku mggak bakalan setuju , masa cerita drama itu ngisahkan perjalanan cintamu ke aku. Kamu fakir cerita yang kam buat itu menarik….. nggak tau!!!! Tpi aku heran kenapa satu kelas setuju dengan cerita drama yang kamu buat. “Wah……. Hanya aku yang nggak setuju”. Terpaksa ….. kata itu lagi yang aku upin demi kelulusan ku. “CINTA KU KANDAS TERAMPAS UAN”. Dari judulnya aja itu bikin aku sakit hati , apa lagi ceritanya. Praktek drama kurang 1minggu lagu , nggak ada persiapan sama sekali. Setiap latihan aku selau absen hanya 1 kali aku datang, hanya air mata yang bias aku sampaikan ke kamu. Tapi kamu juga nggak nyadar, apa hanya dengan kata maaf semua kan kaembali seperti dulu?? Kamu mimpi……!!! Akhirnya hari H itu tiba , jujur benar-benar….. dan benar-nenar……terpaksa aku mau ngalakuin itu. Kata guru ku penanpilan ku dapat nilai C. Aku nggak semangat , ya….. jelas aku nggak semangat, denger kata-kat mu aja aku dah eneg. Gara-gara drama itu semua orang tau antara kamu dan aku. Ih….pokokny nyesel aku dah lenal kamu.

Setelah aku selesai ujian.huh….fikiran ku plong….!!! Waktunya aku nunggu penguman sebelum perpisahan kami mengadakan study tour ke jogja, sebagai tanda kebersamaan kita selama 3 tahun. Asyik………liburan!!! Tak ada anak yang nggak gelisah dengan rencana ini, semua happy. Hari H itu tiba, kami rombomgan SMP berangkat. Sial……masa aku duduk dekat dengan bangku mu, sok cari perhatian kamu itu. Kok bis-bisanya kamu bilang ke temen mu kalau kamu suka dengan ku semenjak SD dan menantikan cintaku selama 6 tahun. Ih……dasar mulut buaya , ember banget sih. Kalau dah ampek pantai ku tending aja kamu biar hilang, dan nggak bakalan kembali lagi. Ih….. bener-bener mgeselin. Sesampai ditempat tujuan yang kami kunjungi selalu kami mengabadikan foto bersma sebagai tanda kenangan, namun selalu aja kamu mint foto ku, ah…. Nggak bakalan mau aku. Tiap aku keliling dan berbelanja dengan teman-teman ku, kamu pasti ngikuti aku. Kamu fikir aku baby sistermu apa? Ih…..sebel……sebel……!!! mggak ngrasa ya….kamu kalau aku cuekin kamu. Seharian penuh keliling jogja. Capek+nyebelin karna ada setan yang ganggu aku. Aku pulang, sesempai rumah pagi. Huh…. Waktunya menggu hari esok.

Setelah study tour kami mengadakan acara perpisahan , sedih banget. Jujur aku nggak rela , semua kanangan 3 tahun harus berakhir disini.memanh kita harus berpisah demi masa depan. Sebuah akhir yang mengharukan , di SMP tercinta. Semua canda tawa, duka berakhir disini.2 minggu setelah acara perpisahan , pengumuman kelulusan tiba. Deg-deg kan itu pasti, hasil belajar ku ada ppada amplop mreah. Hore….yess ….yess…aku lulus.

Semua kenangan di SMP berakhir, kita melanjutkan kan sekolah berbeda. Namun kamu tetap mengusik kehidupan ku sampai sekarang. Walau pun kamu nunggu cintaku sampai mati, tak bakalan aku terima karna pintu maaf ku tertutup buat kamu. Tetap lah hidup dalam dunia mimpimu, walau kanyataanya tak seperti yang kamu inginkan. Cukuplah demua berakhir disini.




Nama : TENTI INAYANTI
Kelas : XE
No : 20


Karya: Rinda S.I ( XD )


Senja memerah di ufuk barat, tersenyum padaku dalam gulita kelam hidupku. Angin mendesau, menerbangkan jilbab putihku yang menari di ruang aliran udara. Ya. Ditengah bunga-bunga menunduk malu pada senja, perdu-perdu indah diterpa kilau lampu taman, terpekiklah jerit-jerit hati manusia akan sakit yang kian merajai rasa.
“Rinda, hari telah senja benar. Baiklah kita masuk. Udara malam tentu tak baik bagi kesehatanmu.” Suster Martha. Lengkapnya Martha Josephine Christmas, seorang perawat yang merindukan pengabdian seumur hidup pada Gereja sebagai seorang biarawati. Dia penganut agama Katolik Ortodoks Roma yang taat, namun dia sangat lenbut dan memahami hati setiap pasiennya. Tanpa memandang agama sang pasien.
“Senja kali ini memukau. Seolah mega merah itu dapat berkata pada bunga-bunga dan manusia.” Ucapku sambil dibimbingnya langkahku menuju kamarku di lantai tiga.
Minggu yang cerah. Suster Martha membujukku untuk beristirahat, namun aku memohon. Ingin aku bermain bersama angina dan kupu-kupu yang melayang mengepak dicelah lazuardi.
“Boleh aku duduk disini?”
“Alferd?”
“Ya. Tak lupa ternyata kau pada teman sekolahmu yang selalu melukis di jam istirahatnya.” Aku tersenyum. Ya, aku ingat. Alferd adalah teman sekelasku semasa SMP. Dan aku tak pernah lagi mendengar kabarnya sejak kelulusan sampai sekarang dimana aku telah duduk di bangku kelas X.
“Aku tak mendengar kabarmu selama ini. Kemana?”
“Aku sakit. Orang tuaku mengirimku ke Singapura untuk berobat dan bersrkolah disana. Tapi aku pulang seminggu yang lalu.”
“Mengapa? Kau sembuh?”
“Tidak. Aku tak pernah sembuh. Aku pulang karena aku ingin menghabiskan sisa umurku untuk melukis dan membuat tanah airku tersenyum dengan lukisanku.”
“Apa maksudmu tak pernah sembuh?”
“Aku adalah mayat hidup. Tapi aku ingin berguna sebelum aku benar-benar menjadi mayat.”
Kini aku tahu. Dia menderita HIV akibat kecelakaan yang menimpanya tiga tahun lalu. Dia membutuhkan banyak darah dan semakin kritis tapi stok darah rumah sakit habis dan orangtuanya tak mempunyai golongan darah yang sama dengannya. Ada seorang wanita waktu itu yang mendonorkan darah padanya, tentu cepat-cepat dokter mentransfusikan darah itu tanpa mengetahui bahwa darah itu adalah darah HIV. Di sisa hidupmya dia melukis dan melelang lukisannya. Lukisannya indah dan inspiratif. Hasil lukisan Ia sumbangkan ke yayasan social. Dia memang tetap Alferd yang kukenal dulu. Tak berubah.
“Aku juga sama sepertimu. Mayat hidup. Tak lama lagi leukemia ini akan membunuhku. Karena sakit ini adalah kematian yang hidup bagiku.”
“Kau tak bisa seperti itu. Hiduplah dan buat dunia tersenyum. Hidup adalah memberi kebahagiaan untuk dunia, bukan melulu mengais-ngais bahagia dari dunia yang semakin berduka.” Aku bangkit. Entah. Kata-kata Alferd begitu sakti mendengung melecut semangat hidupku yang semula melayang di ujung udara.
“Bawalah ini dan jelajahi dunia dengan sayap yang kau miliki. Aku melukisnya dengan darahku sendiri.” Sebuah lukisan kecil berbingkai indah dimana sepasang merpati putih kecil terkepak di celah badai darah.
Aku bangkit dan bersekolah kenbali. Seolah lukisan dan perkataan alferd menghisap habis ketakutan yang mengendap di sudut hatiku.
“Rinda, kuatkan hatimu. Alferd telah berpulang kemarin karena tubuhnya tak mampu lagi menahan himpitan pneumonia yang bersarang di paru-parunya.” Melayang rasaku mendengar suara Suster Martha lewat telepon. Hilang, seakan sesuatu hilang dengan halus dan perlahan meninggalkan kehampaan pedih yang diam-diam menyusup koyakan hatiku.
Payah aku melangkah terduduk lemah di sissi pemakaman merah terlindung rindang kamboja merah. Lemah aku letakkan rangkaian mawar putih itu di peristirahatan terakhirnya.
“Alferd, apa yang kau lakukan? Kau pergi setelah menyuruhku hidup kembali. Tapi lihatlah! Lihatlah aku! Aku tidak menangis. Aku tegar bukan? Ya. Aku tidak menangis karena aku tahu bahwa sebentar lagi akupun akan menyusulmu. “ Sesak. Seakan batu menghimpit dadaku. Berat, memaksa nafas tersengal darah.
“Alferd, aku tak bisa melukis sepertimu. Aku hanya bisa merangkai kata dengan pena dan darahku berharap dunia kan tersenyum membaca cerita-ceritaku. Tidurlah Alferd, tidurlah dalam dekap kasih Tuhan. Kau orang baik, tentu Tuhan menyayangimu. Kelak, aku janjinakan membangunkanmu biar dapat kita melangkah bersama menuju keabadian. Tunggulah aku yang yang masih menanti malaikat Tuhan yang akan menjemputku dan membawaku kepadamu..”
Aku semakin pedih dan sakit. Tamparan halilintar merobek asa yang baru bersemburat dan menumbuh. Tapi aku harus menepati janjiku padanya. Aku akan tetap menulis sampai tanganku tak sanggup bergerak, sampai darahku habis sebagai tinta yang menggores cerita-ceritaku.
“Selamat tinggal Alferd, sampai jumpa. Kau harus berjanji bahwa kau akan menungguku di depan gerbang kematianku. Tak lama lagi.”




THE END


CERPEN

Kuasa-Nya

Sejak SD sampai SMA dia selalu hidup sendiri. Sekolah adalah hal terpenting buatnya, namanya Ardi. Orang selalu menganggap dia lemah, karena dia orangnya pendiam. Walaupun kebanyakan remaja sekarang seumuran dia sudah mempunyai teman spesial (pacar), Namun dia tetap memilih untuk hidup sendirian. Ardi mempunyai sahabat yang bernama Nia. Bagi Ardi Nia sangat berarti, karena dia adalah sahabat dari kecil. Mereka duduk di bangku SMA.
Suatu hari tepatnya hari selasa tanggal 13 Desember 1994 saat pulang sekolah, Nia menghampiri Ardi. Namanya Nia, Nia adalah teman sebangku Ardi di kelas XII.
“Hai, sedang ngapain kamu disini”, Tanya Nia kepada Ardi.
“Sedang menunggu jemputan”, jawab Ardi.
Tiba-tiba Nia berkata, “Aku cinta kamu Ar”.
“Kamu ngomong apa aku nggak ngerti”, sambung Ardi.
Nia berkata lagi “Aku cinta kamu Ar”.
“Maaf aku nggak bisa terima cinta kamu, maafin aku”, jawab Ardi.
Mendengar ucapan Ardi, Nia langsung pergi begitu saja. Dia kecewa sama Ardi. Sesampai di rumah Ardi kepikiran terus dengan Nia. Dia takut Nia berbuat nekat setelah apa yang dia lakukan kepadanya.
Keesokan paginya Ardi mendapati Nia sedang termenung dan sedih di bangku belakang. Melihat itu Ardi yakin bahwa Nia itu memang benar-benar cinta kepada dia. Ardipun merasa telah mengambil keputusan yang salah dan menyesal telah menolak cinta Nia. Dia langsug menghampirinya dan berkata
“Nia maafin aku, aku menyesal udah menolak cinta kamu, aku mau jadian sama kamu dan kamu jangan sedih lagi ya,,,,”.
“Makasih Ar, aku nggak akan kecewain kamu”, jawab Nia.
“Sama-sama, sebenernya aku juga udah anggap kamu lebih dari sekedar sahabat buat aku”.
Akhirnya mereka jadian. Hari demi hari selalu mereka lewati bersama.. Susah, senang, duka, canda dan tawa menjadi pelengkap hubungan mereka. Tapi pada akhirnya mereka harus berpisah, Karena keluarga Nia pindah ke luar kota. Dan Niapun ikut bersama keluarganya.
Sekarang Ardi melewati hari-harinya sendiri, tanpa kehadiran Nia di sampingnya. Satu minggu dua minggu telah berlalu, sampai dua bulan tidak ada kabar dari Nia. Setelah empat bulan akhirnya Nia memberi kabar lewat sepucuk surat. Surat tersebut berisikan bahwa Nia telah dinikahkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Setelah menbaca surat tersebut Ardi menjadi sangat sedih. Janji setia sampai mati yang telah mereka ucapkan hanyalah jadi sebuah kata-kata. Mereka bertemu karena Tuhan, dan berpisah karena Tuhan pula. Apa daya seorang manusia, semua sudah di atur oleh Tuhan yang kuasa.
Antara Sahabat Dan Cinta

Waktu aku duduk di bangku SMP, aku sungguh bisa merasakan arti dari pertemanan dan persahabatan. Bagiku SMP lah kisah- kisah yang terindah selama ini, Karena di SMP lah banyak kenangan yang tak dapat ku lupakan .
Di SMP teman-teman ku baik-baik semua, mereka tidak pernah membedakan antara teman satu dengan teman lainnya. Aku pun berharap bisa bersama dia untuk selamanya. Waktu di kelas 3 lah rasa-rasanya aku sudah berpikir tentang perasaan yang ada di dalam hatiku selama ini.
Aku tidak pernah fokus memikirkan itu, karena sebentar lagi sudah mendekati Ujian Nasional. Sekitar kurang 2 bulanan sekolahku sudah melakukan program les sore, aku pun sangat senang karena aku bisa bersama teman-teman ku selama hampir setengah hari. Hari terus berganti hari dan waktu terus berjalan, akhirnya Ujian Nasional pun kami tempuh...Huh, rasa-rasanya jantung ini berdebar karena takut apalagi pengawasnya kelihatan galak, tapi alhamdullillah aku pun bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional dengan tenang tanpa ada rintangan apa pun.
Sudah ku lalui Ujian Nasional selama 4 hari dan menanti beberapa minggu lagi kami menghadapi Ujian Akhir Madrasah, tak lama kemudian kami tempuh Ujian Akhir Madrasah selama 1 minggu. Setelah itu kami masuk sekolah pun jarang karena udah tidak ada lagi pelajaran , kecuali menuggu pengumuman-pengumuman yang lain. Kami menunggu pengumuman kelulusan sangat lama, tapi aku pun tetap masuk agar bisa bertemu teman-teman ku lagi.
Akhirnya setelah itu akupun berfikir tentang perasaan ku yang dulu , karena aku sudah lega karena sudah menempuh Ujian Nasional. Awalnya aku dekat dengan salah satu temanku, tapi dia gak satu kelas sama aku,berawal dari SMS an lah aku dekat sama dia.
Dia bernama Radit, dia setiap hari SMS an sama aku, dia lama kelamaan mengungkapkan perasaannya kepada aku, aku pun juga sedikit punya rasa lebih dari teman kepada dia,tapi kata teman-temanku dia itu play boy dan punya banyak cewek, akhirnya aku tanya sama temen Radit,dia bernama Alvin dan kata Alvin, Radit memang punya sifat seperti itu, tapi aku gak percaya kalau Radit gak sejelek apa yang di katakan temen-temenya.
Akhirnya aku tetap menjalin hubungan lebih dari teman dengan Radit , tapi hanya sebentar saja………Hemmm, rasanya aku kayak gak pingin kehilangan dia, tapi biarlah mungkin itu serpihan cinta sementara.
Tak lama kemudian setelah itu hasil Ujian Nasional tapi yang sementara sudah keluar……Alhamdullillah aku bisa lulus,aku sangat senang dan orang tuaku pun juga sangat senang. Tak lama kemudian sekolahku mengadakan wisudawan-wisudawati tentang acara perpisahan kami. Setelah itu acara wisudawan-wisudawati telah di mulai , aku melihat Radit rasa-rasanya aku gak pingin pisah sama dia.
Akhirnya acara wisudawan-wisudawati alhamdullillah bisa berjalan dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun. Dan acara wisudawan-wisudawati di nyatakan telah selesai. Tak lama kemudian kami pun tinggal menunggu beberapa minggu untuk menanti keluarnya ijazah yang asli,dan aku pun bisa melupakan bayang-bayang Radit.
Saat aku kehilangan Radit, ada laki-laki yang hadir di dalam kehidupanku, dia bernama Rudi, dia itu ternyata satu sekolahan sama aku……Hmmmm, aku tak bisa membayangkan kenapa aku bisa satu sekolahan sama Rudi, apalagi dia sudah mengenal aku,Hmmm, aku sebel banget.
Padahal aku melihat dia aku sangat benci sama dia, kenapa Rudi bisa hadir di kehidupanku. Tapi entah kenapa Rudi bisa baik sama aku, perhatian sama aku . Aku saja malah jahat sama dia, bagaimana aku bisa membalas kebaikan dia kepada aku. Dia selalu saja bisa membuat aku tersenyum, tapi aku tetap saja kasar kepada dia. Dia malah mengungkapkan cinta kepada aku, aku mendengar itu, aku malah tambah benci sama dia, tapi Rudi tidak tau kalau aku benci sama dia.
Sahabatku yang bernama Nida pun selalu mengingatkan kepada ku, bahwa aku tidak boleh keras kepala dan egois kepada Rudi. Dia selalu bilang bahwa Rudi itu anak baik, tapi aku tetep saja cuekin perasaan dia. Aku melihat dia saja sangat buuuuenci, apalagi suruh pacaran sama dia, Hmmmmm,gak bisa ngebayangin deh pokoknya.
Waktu terus berganti waktu tapi Rudi pun tetap saja ngejar-ngejar aku. Aku pun lama-kelamaan merasa kasihan sama dia, tapi aku belum bisa ungkapin perasaan ku kepada dia, apalagi menerima dia, sulit deh pokoknya.
Akhirnya dengan terus berjalannya waktu, aku bisa mengerti perasaan dia yang sesungguhnya kepada aku. Tak lama kemudian aku sadar, aku bisa menerima apa yang di ungkapkan Rudi ke aku selama ini. Aku akhirnya menjalin cinta sama dia. Tak lama setelah itu alhamdullillah ijazah asli pun keluar, aku merasa senang banget. Karena apa yang ku nanti-nanti selama 3 tahun di SMP sudah keluar .
Tak lama kemudian aku tinggal menunggu pendaftaran di sekolah baru, setelah penantian itu, aku bisa daftar di SMA, kebetulan SMA itu dekat dengan rumah ku, yaitu di SMA N 1 SAMBIT. Hmmm rasanya gak enak banget aku pisah sama teman-teman SMP ku, andai saja waktu tidak berputar,aku senang banget bersama - sama lagi dengan temanku SMP untuk selamannya.

Meskipun aku sudah duduk di bangku SMA, hubungan ku dengan Rudi tetap baik- baik saja. Meskipun Rudi berbeda sekolahan dengan aku, tapi cinta dia ke aku sungguh tulus. Dia tidak pernah memikirkan cewek lain kecuali aku, meskipun hubunganku dengan Rudi banyak rintangan tapi cinta dia tetap saja tidak rapuh. Selain itu aku juga ingin mencintai dan di cintai, karena di dalam cinta itu kita bisa menerima kekurangan satu sama lain. Karena dengan cinta yang tulus kita bisa merasakan arti sebuah cinta sesungguhnya.
Tapi mengapa di dalam bercinta itu kadang cinta itu menyakitkan apabila kita merasa di hianati, dan bisa juga di katakana cinta itu indah apabila cinta kita tidak di hianati. Aku tidak pernah menganggap pacaran ini dengah serius, karena aku masih ingin menggapai cita-cita.
Sekarang ini banyak anak remaja menjalin cinta hanya untuk penyemangat, dan jangan sampai cinta itu hanya untuk berbuat maksiat saja……ASTAGFIRULLAH’HALADZIM…Nanti kita malah dapat dosa saja. Dengan hadirnya cinta jangan sampai kita ini terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif. Jagalah cinta itu baik-baik, dan bagiku jangan kita merasa senang apabila cinta itu datang silih berganti, karena itu semua bias berakibat fatal apabila kita tidak menjaga diri dengan baik-baik.
Begitupun aku, meskipun aku di cintai oleh Rudi, tapi aku tidak pernah menganggap dia sebagai cinta selamanya. Aku dan Rudi pun selalu menjaga cinta itu baik-baik, sampai saat ini cinta aku dan Rudi tetap baik-baik saja. Karena cinta yang sesungguhnya itu adalah kita bisa menerima kekurangan satu sama lain, bukan mencari kelebihan dan tanpa memandang segi apa pun.



NAMA : NURUL ZULAIKA
KELAS : X-B
NOMOR : 15
BENCI JADI CINTA

“Hahhhhh,,,,,,,,,,,,,pagi ini cerah sekali,gue jadi semangat banget ke sekolah ini pertama aku masuk sekolah bagaiman ya suasananya di sekolah baru”.Chyka segera mandi dan siap-siap mau berangkat sekolah,”Ma……….mana tas saya??????????(chyka),,,,,Aduh sayang pagi-pagi kok udah teriak ada apa???(Ibu Chyka),,,,Tas aku dimana ma,,keburu telat nich!!!!ini kan pertama kali aku masuk sekolah jadi aku g’mau telat ma….(chyka),,,Udah mamasiapin tas kamu di kursi ruang tamu sana,,(ibu chyka),,Chyka langsung berangkat sekolah dan minta izin sama mama dan papanya…”Ma,Pa Chyka berangkat sekolah dulu do’ain Chyka ya Ma Pa,,,,y sayang hati-hati jangan nakal disekolah”
Chyka berangkat sekolah di antar sama pak Bejo supir pribadi Chyka,Chyka mau pergi kemana” selalu di antar sopirnya,,,,(di dalam mobil Chyka sama sopirnya ngbrol) “Neng…pak Bejo yakin kalau non punya banyak teman di sekolah non nanti,,,,eemm ya pak pak makasih,,,Nah ini sekolah non Chyka yang baru non Chyka harus betah di sekolahan yang baru ini.ya pak, makasih jgn lupa nanti djmput y pak ???Siap Non…………..”””Chyka mulai masuk sekolah SMA TUNAS BANGSA,,Chyka mencari ruang Kepala Sekolah itu,,diperjalanan ada seorang cowok yang menabraknya,,,”aduhhhh….eh ya ampun maaf maaf ya gue g’ liat td,ouw ya g’ apa” kok laen kali hati-hati kalau jalan.”Chyka masuk ke ruang kepala sekolah di bertanya dimana kelasnya sekarang dan kemudian di antar sama guru yang akan mengajar dikelasnya.
“Ayo Chyka Ibu antar ke kelas sekalian saya mau mengajar dikelasmu,,Oh iya bu makasih,,..Selamat pagi anak-anak?Pagi bu……Nah hari ini kalian kedatangan teman baru juga murid baru disini,Chyka mari masuk”.Chyka pun masuk ke kelasnya.”Chyka kenalindulu namamu pada teman-teman kamu sekarang ini,,iy bu…..teman-teman Chyka yang baru kenalin namaku Chyka Venesya aku dari sekolah SMA 20 Jakarta….ya sudah cukup perkenalannya Chyka duduk didekatnya Vito ya….Sini chyka duduk disebelahku,,,,,HHHHHHuuuuuuuuuuuuuuuu…………..(soraknya murid-murid laen)…SSsssssttttttttttttt,….sudah-sudah kita mulai pelajaran hari ini,pelajaran pun dimulai….dan bel istirahat pun berbunyi semua murid-murid keluar kelas istirahat,,tapi Chyka tidak ikut keluar sama teman-temannya,tiba-tiba Vito Nyamperin Chyka..”Chyka ayo ke kantin daripada disini sendirian,,emmm makasih gue lagi males keluar,,udah dech pokoknya ayo…”Vito menarik tangannya Chyka,akhirnya Chyka pun mau ke kantin ma Vito.setelah itu mereka memesan minuman dan duduk ,tak lama kemudian ada seorang cowok yang duduk didekat Chyka
“Eh maaf y q duduk disampingmu?”
“Ngomong dulu kek kalau mau duduk disini jangan maen nrobos saja,gk sopan tau lo!!!!”
“y kan gue udah minta maaf to..”
“maaf-maaf,udah terserah lo…”
“apa-apan sich kalian tuh berantem kayak anak kecil aja,”
“Yuk Vito kita kekelas aja males gue disini samacowok ini.”
“Y udah ,ayo Chyk.”
Chyka sama Vito masuk kekelas dan Chyka masih ngomel-ngomel tentang anak yang dikantin tadi.Jam pelajaran pun dimulai.3 jam kemudian bel pulang pun berbunyi murid-murid pada keluar kelas dan pulang.Chyka menunggu Pak Bejo dating,kemudian Chyko yang berantem sama Chyka di kantin tadi menyamperi Chyka,
“Hei,ngapaen sendirian disini nunggu jemputan y??gue anter mau gk??”ajak Chyko.
“Gk btuh tumpangan gue makasih.”
“Y daripada sendirian disini mending bareng sama gue kan enak,yuk naek aja.”
Chyko memaksa Chyka buat di antar pulang sampai Chyka mau bareng sama Chyko.Sampai dirumah Chyko tiba-tiba Chyko ikut turu dan masuk kerumah Chyka,padahal Chyka gk nyuruh masuk kerumahnya.
“Eh ngpaen lo ikut-ikut masuk kerumah gue.”
“y gk pa-pa to kan Cuma mampir kerumah lo aja.”
“Gue kan gk nyuruh lo mampir,udah pulang sana.”
“Wauw gk sopan amat sich.”
“ada apa sich kok rebut-ribut gini,eh temene Chyka ya?ayo masuk nak,gimana sich sayang temene gk di suruh masuk?”
“Tu kan ibu lo aja nyuruh gue masuk,Ibunya baek kok anaknya galak banget y kaya Singa.”
“Ssssssttttttt diam lo berani sama gue awas lo!!!”
“Eett cewek gk boleh galak-galak gtu ntar cepet tua lo”
“Huh kurang ajar lo y….HHHuuuuuhhhhhhhh.”
“Sudah-sudah ayo masuk jangan berantem terus.”kata ibu Chyka.
Merekapun masuk kerumah dan Chykalangsung masuk kamarnya ,ibu Chyka dan Chyko masih ngobrol-ngobrol diruang tamu,tak lama kemudian Chyko pamit pulang.
1 Bulan kemudian Chyka masih gk suka sama Chyko tapi Chyko selalu dekati Chyka..Ternyata Chyko punya rasa pada Chyka dan itu datangnya pertama kali melihat Chyka,padahal Chyko sulit banget kalu tentang suka sama cewek tapi kali ini Chyko bener-bener suka sama Chyka,y walaupun Chyka terus marah-marah sama dia ,tidak menghentikan Chyka buat ngedeketin Chyka.Inilah cinta sejati gk pantang menyerah walaupun banyak rintangan yang harus dihadapi.
“Hae Chyka,malam minggu gue ajak makan malm mau gk.”
“Sory gk bisa.”
“Ayolah Chyka kali ini aja y,plissss.”
“Kalau gk mau y gk mau ngerti gk sih lo”
“udah deh Chyk terima tawarannya Chyko kasiahn kan sampai ngemis-ngemis gitu sama lo”kata Vito.
“Tapi Vit…..”
“Udah deh pokoknya lo harus mau,,”potong Vito.
“Y udah low gitu,gue mau.”
“Beneran Chyk,yes..y udah gue jemput lo malam minggu nanti gue kerumah lo.”
Akhirnya Chyka mau diajak Chyko makan malam,ternyata Chyka juga punya rasa sayang sama Chyko itu datangnya dari kebencian Chyka sama Chyko.Chyka gk menyangka kalau inta dating dari kebncian semakin benci Chyka semakin saying sama Chyko.
Malam yang ditunggu Chyka gk sabar mau jalan sama Chyko pun sudah nanti malam,dan Chyka sudah siap-siap nunggu Chyko dating kerumahnya.Tak lama kemudian Chyko dating dan Chyka langsung keluar nyamperin Chyko yang sudah menunggu Chyko didepan rumahnya.
“Hey…”
“hey juga,wah low malam ini cantik banget”
“Emang sebelume gk cantik gitu”
“Gk gitu maksud gue,mala mini lo tambah cantik banget.”
“Alah gombal,udah deh yuk kita jalan.”
“Y udah mari tuan putri “
Chyko membukakan pitu mobilnya,dan menuju kesebuah restoran mewah.Disana mereka ngobrol-ngobrol sambilmenikmati makanan dan suasana romantic yang diiringi music.
“Chyka,gue boleh ngomong sesuatu gk sama loe,”
“Mau ngomong apa?ngomong aja sekarang,”
“Emm,seljak pertama kali mgue melihat loe gue udah suka sama loe dan gue gk bisa nyimpen perasaan ini lama-lama,jadi ini waktu yang tepat buat gue ungkapin rasa sayang gue ke loe,loe mau kan jadi cewek gue dan gue janji gk bakal ngecewain loe gue janji Chyk,tolong trim ague jadi cowok loe Chyk,pliiissss…..”
“Hah…loe sayang sama gue,,y gue juga gk bisa bohongin diri gue karna gue juga sayang sama loe Chyko,jadi y gue mau trima Cinta loe dan gue mau jd cewek loe.”
“Beneran Chyk loe mau trima Cinta gue.”
“Y gue mau kok Chyko.”
“Jadi kita sekarang udah resmi pacaran kan?”
“y Chyko..”
“Hahahahah…..Yeeeaaahhh akhirnya Chyka mau trima Gue jadi cowoknya.”
“Ssssttt…jangan teriak-teriak gitu donk Chyko malu dilihat orang banyak.”
“Biarin orang-orang pada tau kalau kita jadian.”
“Terserah loe aja dech.”
Akhirnya mereka berdua jadian pada malam itulah mereka resmi pacaran.Ternyata Cinta memang datang dari kebencian.


( BY: ANGGUN DHERTI VETAYANI)

Rembulan yang bersinar bagai intan yang memancarkan kilaunya. Desahan angin kecil mengibaskan rambut panjang Romlah yang terurai panjang. Dia duduk di bawah pohon akasia di depan rumahnya sambil menunggu pujaan hati tercintanya.
“ Akang cepatlah datang, tidakkah kau tahu bahwa aku merindukan mu.”
Ia berharap sambil menatap bulan yang seolah mampu mendengarnya.
Tak lama kemudian, sesosok manusia tampak dari kejauhan mengenakan kemeja rapi dengan sepeda ontel tuanya. Hati Romlah makin penasaran di buatnya, apakah itu si Katiman lelaki tampan pujaan hatinya? Pertanyaan itu pun terjawab ketika sosok itu menghampirinya.
“ Romlah ini akang, akang datang untuk mu sayang ,” sahut Katiman sambil melambai-lambaikan tangannya.
“ Akang ternyata akang mendengar panggilan hati Rom kang, Rom dari tadi di sini menunggu akang.” Kata Romlah.
“ Tentu sayang, akang pun begitu. Tumben kamu duduk di depan sendirian, kemana abah dan emak ?” tanya Katiman.
“ Mereka sedang mengantar Abdul berobat, tiba-tiba saja Abdul tadi mendadak demam tinggi kang ,” kata Romlah.
“ Pantas saja sepi sekali rumah kamu Rom, kalau saja abah mu ada pasti aku sudah di usirnya sedari tadi,” ujar Katiman dengan nada pelan sedikit kecewa. Sesaat suasana hening, mereka pun duduk berdua di bawah pohon tempat Romlah duduk tadi. Andaikan orang tua mereka merestui hubungan mereka, pasti mereka tidak perlu diam-diam begini saat ingin bertemu. Seperti maling yang menyelinap di tengah-tengah kelengahan orang. Selalu saja begitu, Romlah dan Katiman memanfaatkan kesempatan.
“ Akang sampai kapan kita terus begini, sampai kapan kita sembunyikan hubungan ini,” Tanya Romlah membuka pembicaraan.
“ Sampai orang tuamu mau menerima aku, itu pun kalau kau setia menunggu ku, aku akan buktikan kepada orang tua mu kalau aku akan menjadi orang yang sukses dulu, baru aku berani meminang mu,” jelas Katiman.
“ Tapi aku akan menerima mu apa adanya kang, walaupun nanti hidup kita sederhana, asalkan kita bahagia, harta tak mampu menjamin kebahagiaan kang, banyak pejabat tinggi yang memiliki harta melimpah, tapi mereka tak mampu saling jujur dan terbuka hingga akhirnya mereka terpeleset ke dalam jurang perselingkuhan,” jelas Romlah.
“ Itu kata mu Rom, tapi tidak untuk orang tua mu, lagi pula tanpa restu mereka kebahagiaan yang kita impikan itu tak kan pernah mampu terwujud sayang,” jawab Katiman sembari memegang tangan Romlah.
“ Kalau begitu, jika abah dan emak tetap tidak merestui kita apa akang rela begitu saja ?” Tanya Romlah dengan nada serius.
Ketegangan mulai tampak terasa, pembicaraan mereka mulai tampak serius.
“ Tentu tidak sayang, akang pasti akan mewujudkan impian kita untuk selalu bersama hingga masa senja kita. Semakin kuat akar suatu pohon pasti makin besar pula badai yang menerjangnya. Begitupun dengan kita,” jawab Katiman sembari mencairkan suasana.
Katiman mengusap kening Romlah. Bintang pun seolah bahagia melihat kemesraan mereka. Bulan pun ikut mengintip malu-malu di balik kerumunan awan.
Tak terasa waktu pun cepat berlalu, suara motor tua abahnya terdengar jelas dari kejauhan. Apalagi di malam yang begitu sepi. Romlah pun segera menyuruh Katiman pulang . jangan sampai mereka kepergok duduk berdua.
“ Akang itu suara motor abah, akang harus cepat – cepat pulang, aku tidak mau abah melihat kita disini, “ kata Romlah cemas.
“ Baik Rom, akang akan pulang, jaga dirimu baik – baik ya ? ” kata Katiman.
“ Iya akang, akang hati – hati ya “ jawab Romlah sambil bergegas lari masuk kedalam rumah.
“ Iya Rom, ketahuilah akang sangat menyayangimu, “ sahut Katiman agak menjerit. Namun Romlah sudah keburu menutup pintu rumahnya, dan menuju kamarnya seolah – olah dia sudah tidur ketika abah, emak, dan adiknya pulang.
Dung dung dung dung…
Suara knalpot tua dari motor tua warisan kakeknya dulu. Seketika suara itu ilang disambung dengan suara dencitan sepatu dan engsel pintu.
“ Teh Rom, emak pulang, apa kamu sudah tidur nak ? “ ujar emaknya tapi tidak ada suara yang menyahut dari dalamnya.
“ Padahal emak bawakan martabak keju kesukaanmu, “ sambung emaknya.
Tiba – tiba . . .
“ Rom belum tidur kok mak, tadi sedang mendengarkan radio jadi tidak terdengar, “ teriak Romlah sambil beralasan ketika mendengar emaknya membawakan martabak keju.
“ Hmmm . . .dasar kamu itu, dibilang bawa martabak saja langsung lari dari ranjang,” ledek emaknya.
“ Hehehe . . .ya emak kan tahu itu kesukaan Romlah,” ujar Romlah sambil malu – malu.
Malam itu Romlah serasa ada dipuncak surga. Keinginannya ingin bertemu Katiman terwujud dan dapat bonus martabak keju dari emaknya. Ini mungkin yang disebut pucuk dicinta ulam pun tiba.
Keesokan harinya seperti biasa Romlah bangun saat adzan shubuh berkumandang. Ia selalu hanyut dalam lantunan kumandang adzan yang diserukan Katiman.
“ Akang kau memang malaikat penjagaku, “ lirihnya dalam hati sambil tersenyum.
Segera ia mengambil air wudlu dan sholat shubuh. Tak lupa setelah sholat iapun membaca beberapa ayat Al – qur’an yang mampu menyejukkan hatinya tatkala fajar menjelang. Iapun selalu berdo’a agar Tuhan mau membukakan pintu hati orang tuanya untuk merestui hubungannya dengan Katiman.
Lesung padi dan kokok ayam mulai terdengar, pertanda emaknya sudah bangun. Romlah pun langsung menuju kedapur,” emak sudah bangun? Sini biar Romlah saja yang menumbuk padi, emak segera sholat dulu saja.”
“ Emak tadi sudah sholat nak. Kamu pergi saja kepasar belikan emak ikan asin kesukaan abahmu, “ perintah emak.
“ Emmm. . . . baik mak. Rom pergi sekarang selagi masih pagi dan udarapun masih sejuk, lumayan sekaligus penyegaran, “ kata Romlah sambil mengambil tas belanjanya yang tergantung diatas pintu dapur.
Diperjalanan menuju kepasar Romlah bertemu dengan Katiman.
“ Assalamu’alaikum Romlah, kamu mau kepasar ? ” Tanya Katiman sambil basa – basi.
“ Wa’alaikumsalam, iya kang Romlah diminta emak untuk membeli ikan asin kesukaan abah,“ jawab Romlah.
“ Oh begitu, bolehkah akang mengantarmu ? “ kata Katiman member tawaran sembari membungkukkan badannya seolah cerita disinetron.
“ Dengan senang hati akang, asalkan abah tidak melihat kita, “ jawab Romlah tersenyum sembari khawatir.
“ Tenang saja, pasti abahmu sekarang sedang memandikan burung perkutut kesayangannya itu, “ kata Katiman meyakinkan.
“ Benar juga kata akang, tapi kita harus tepat waktu kembalinya, “ jawab Romlah.
“ Tenang saja, akang kan hanya ingin mengantarkan permaisuri akang kepasar, ayo naik! ” katanya sambil menoleh kearah boncenga sepeda tuanya.
Mataharipun sedikit mulai menampakkan rupanya. Cahayanya yang mulai menyilaukan membuat tetes – tetes embun didedaunan tampak seprti intan yang berkilauan. Kemicau indah nyanyian burung melenyapkan segala kesunyian pagi itu. Orang – orang pun mulai beraktifitas seperti halnya Romlah dan Katiman yang sudah kembali dari pasar dan memulai aktifitas mereka masing – masing.
Katiman yang sedang membantu abahnya disawahswdikit mulai merasa lelah. Ia bergegas menuju saung di tengah sawahnya. Abahnya pun sudah menunggunya untuk menyantap hidangan yang dibuat emaknya. Tiba – tiba di tengah – tengah saat makan abahnya memulai percakapan, “ Man, apa kamu sekarang masih berhubungan denga Romlah si anak juragan kikir itu ? “
“ Maksud abah Juragan Somad ? “ jawab Katiman sembari tersentak mendengar pertanyaan abahnya.”
“ Iya, dengar nak, jauhilah Romlah dari sekarang, kita ini hanya orang miskin, kamu tahu kan abahnya itu hanya memikirkan harta, harta dan harta ! “ Kata abahnya.
“ Iya bah, Man juga tahu, tapi kan . . . . “ belum selesai ia berkata.
“ Sudah dengarkan abah, urungkan niatmu untuk mempersunting Romlah, “ potong abahnya.
Katiman hanya terdiam dan mencerna dalam – dalam perkataan abahnya itu. Apakah mungkin harta mampu mengalahkan ketulusan cintanya terhadap Romlah. Seribu tanda Tanya berkemelut dipikiran Katiman. Jalan mana yang harus ia pilih untuk mampu mempertahankan cintanya terhadap Romlah.
Keesokan harinya, ada seorang wanita paruh baya keluar dari mobil sedan hitam yang berhenti di depan rumah Romlah. Dari penanmpilannya sepertinya dia orang kota. Ternyata wanita itu adalah teman lama abahnya yang kabarnya kini menjadi pengusaha kafe besar di Jakarta.
“ Somad ! “ teriak wanita itu.
Juragan Somad yang sedang mengelus – elus burung kesayangannya itu terkejut, “ maaf anda ini siapa ? seenaknya berteriak memanggil saya.! “
Ia tersinggung dengan kata – kata wanita itu, karena tidak ada satu orang pun yang berani memanggilnya tanpa sebutan juragan.
“ Aku Susi teman lamamu dulu, “ kata wanita itu.
Mendengar penjelasan itu barulah Juragan Somad mamou membuka memori – memori lamanya dan teringat dengan nama Susi. Susi adalah nama teman sepermainannya semasa SMA. Akhirnya ia pun mempersilahkan Susi masuk dan memperkenalknannya kepada anak dan istrinya.
“ Wah anak perempuanmu cantik sekali, “ sahut Susi kagum melihat pesona aura Romlah.
“ Tentulah abahnya saja ganteng, “ jawab Juragan Somad sambil mengangkat – angkat alis matanya.
“ Siapa namamu sayang ? ‘ Tanya Susi kepada Romlah.
“ Romlah bu,” jawab Romlah.
“ Jangan panggil bu, panggil saya tante, “ kata Susi.
“ oh iya bu, maaf tante maksud saya, “ jawab Romlah terbata – bata.
Tiba – tiba tersirat dibenak Susi untuk mengajak Romlah dengannya. Ia ingin menjadikan Romlah salah satu pekerjanya yang mampu membawa keuntungan besar untuknya. Ia pun mengiming – imingi nilai rupiah besar terhadap Romlah. Romlah sama sekali tidak tertarik dengan tawaran itu, baginya masukan sebagai guru TK didesanya sudah cukup. Namun abahnya yang selalu haus harta memaksa Romlah untuk mau menerima tawaran itu. Susi memberi waktu tiga hari kepada Romlah untuk mempertimbangkan tawarannya itu.
Malam harinya dimeja makan . . . .
“ Rom, bagaimana kamu sudah mempertimbangkan tawaran teman abah tadi, “ Tanya Juragan Somad sambil menyantap hidanga makan malamnya.
“ Sudah bah,” jawab Romlah tanpa panjang lebar.
“ Bagus, kamu setuju kan?” Tanya Juragan Somad kepada putrid sulungnya itu.
“ Tidak,” Jawab Romlah tanpa berkomentar.
“ Kamu bodoh! “ umpat abahnya sambil menggenrakan meja. Seketika emak Romlah dan adiknya kaget .
“ Abah ini apa-apaan sih, bisa tidak abah sedikit lebih halus dengan anak sendiri” Kata istrinya.
“ Nasehati anak mu itu bagaimana agar bisa membahagiakan orang tua !” ketus Juragan Somad.
“ Pokoknya Rom tidak mau abah!” tegas Romlah.
“ Kamu benar-benar tidak tahu diuntung! Setidaknya kamu bisa membalas budi terhadap orang tua mu ini dengan uang yang tidak sedikit jumlahnya dari pekerjaan yang di tawarkan teman abah itu,” kata juragan Somad.
“ Abah masih kurang dengan semua ini? Selalu uang dan uang yang abah pikirkan,” Jawab Romlah.
“ Dasar kau anak kurang ajar!” umpat abahnya sembari berdiri dan mengangkat tangannya yang ingin diarahkan ke pipi mulus Romlah.
Namun Romlah pun segera bergegas lari menuju kamarnya. Dia merasa hidupnya penuh dengan beban. Abahnya tidak pernah mau menerima hidup ini walaupun semua sudah tercukupi. Semua selalu kurang dan kurang. Sampai ia pun tega dengan anaknya sendiri. Padahal gaji Romlah tiap bulan sebagai guru TK saja sudah semuanya ia berikan ke abahnya.
Tiba-tiba terdengar ada yang membuka pintu kamar Romlah. Siapa lagi kalau bukan emaknya yang selalu memberikan kesejukan tiap Romlah merasa gundah gulana.
“ Emak,” lirih Romlah sambil memeluk emaknya.
“ sudah sayang, tidak ada yang perlu kamu tangisi,” tutur emaknya dengan lembut sambil mengusap rambut Romlah.
“ Iya mak, tapi Rom merasa hanya akan membebani abah dan emak,” kata Romlah.
“ Kamu itu anak emak sayang, lagi pula emak juga tidak terlalu setuju dengan keputusan abah mu itu, sifat abah mu dari dulu memang sudah keras kepala,” kata Emaknya.
Sebenarnya hati kecil emaknya merasakan sebuah kejanggalan dengan tawaran pekerjaan yang di berikan oleh Susi teman suaminya itu. Ia juga tidak merelakan jika anaknya bekerja dengannya, apalagi jenis pekerjaannya tidak dijelaskan secara jelas. Tentu saja hati seorang ibu itu sangat peka dengan perasaan dan keselamatan buah hatinya.
Malam pun kembali larut. Dinginya merasuk, dan menusuk-nusuk inci demi inci tulang dalam tubuh setiap orang yang masih terjaga. Semua orang hanyut dalam mimpiya masing-masing. Mimpi yang membuat hidup ini lebih berarti. Mimpi yang selalu menjaga hari ini dan hari esok seakan lebih berwarna. Dan Romlah pun berniat esok akan di jadikannya momentum untuk bertemu sang pujaan hatinya.
Kasihan sekali Romlah, dari kecil ia memang tergolong anak yang cerdas, pendiam, polos, dan selalu menuruti perkataan orang tuanya. Tapi abahnya sendiri tidak pernah mau mengerti perasaan Romlah.
Hari ini Romlah berniat ingin menemui Katiman di sawah tempat biasa Katiman membantu orang tuanya.
“ Akang!” Teriak Romlah dari seberang sawah sambil melambai-lambaikan tangannya.
“ Romlah??” lirih Katiman terkejut, dan langsung menghampiri Romlah.
“ Akang, Rom ingin bicara dengan akang,” kata Romlah dengan pandangan serius.
“ Bicara tentang apa Rom? Apa kamu tidak takut ketahuan abah mu sedang bicara dengan ku?” Jawab Katiman.
“ Sudahlah kang, sudah kepalang tanggung saya sampai disini kang,” kata Romla
Romlah pun menjelaskan semua kejadian yang terjadi, ia pun berniat sekaligus berpamitan dengan Katiman.
“ Apa?” Katiman terkejut.
Romlah hanya mengangguk dan terdiam sambil menangis.
“ Kamu akan pergi meninggalkan aku?” lanjut Katiman.
“ Iya kang, ini semua memang pilihan yang berat untuk Rom kang,” Jawab Romlah sambil meneteskan air matanya.
“ Kenapa abah mu setega itu dengan mu Rom?” kata Katiman prihatin.
Romlah kembali hanya terdiam.
“ Tapi jika itu memang yang terbaik menurut mu, aku tak kuasa untuk menahan mu, meski hati ini berat untuk membiarkanmu pergi,” kata Katiman sambil menatap Romlah penuh arti.
“ Akang jangan khawatir, Rom pastii kembali untuk akang,asalkan akang masih setia menunggu Rom, kang,” kata Romlah.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang sudah tidak asing lagi,” Bagus! Ternyata ini alasan mu kenapa kamu menolak tawaran teman abah kemarin?”
“ Abah?” kata Rom terkejut.
“ Ternyata kamu lebih memilih laki-laki miskin ini ketimbang menuruti oerkataan abah mu ini!” bentak Juragan Somad.
Katiman sedikit tersinggung dengan kata-kata setajam belati yang keluar dari mulut juragan kikir itu. Namun Katiman tidak mau langsung ambil tindakan, baginya itu sama saja melawan orang yang tidak kenal bahasa manusia. Romlah pun langsung di tarik pulang oleh abahnya.
Sesampainya di rumah, Romlah menjelaskan maksudnya menemui Katiman. Namun sama sekali tidak dihiraukan oleh abahnya. Tapi ketika Romlah berkata bahwa ia menyetujui perintah abahnya dan meninggalkan tugasnya sebagai guru TK, barulah abahnya mulai menatap Romlah.
“ Apa kau yakin dengan kata-kata mu?” Tanya abahnya.
“ Iya bah, toh walaupun Rom berkata tidak yakin tentu abah tidak mau menerimanya, Rom hanya ingin melihat abah bahagia,” ujar Romlah.
Matahari mulai menuju singgasana peristirahatannya. Mega merah yang membentang seolah pertanda malam kan datang. Romlah menyiapkan semua barang-barang yang akan dibawanya esok hari ke kota. Ini adalah malam terakhirnya duduk bersama menyantap hidangan makan malam bersama keluarganya. Ntah mengapa perasaannya mengatakan seolah-olah ini terakhir kalinya ia mampu menatap wajah-wajah orang yang begitu ia cintainya itu.
Waktu pun bergulir teamat cepat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam terasa amat begitu cepat. Kini tiba saatnya Romlah pergi menuju tempat barunya. Sedan hitam sudah terparkir di depan rumahnya. Berat sekali rasanya melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung halamannya itu. Sebelum ia pergi Romlah berpesan pada ibunya, ”Mak, apabila nanti Rom kembali, emak harus tersenyum menyanbut kedatangan Rom, sudah emak tidak usah menangis lagi ya.”
Namun disisi lain abahnya sama sekali tidak ada rasa penyesalan melepas kepergian anaknya. Ia malah meminta Romlah agar mempercepat keberangkatannya dan segera mampu mengirimkan uang untuknya.
Romlah juga pun berpesan kepada abahnya,” Bah, apapun perintahnya Rom akan berusaha menuruti kata-kata abah, apapun resikonya biarkan rom yang menanggung aslakan Rom mampu membalas budi abah selama ini, tapi abah harus ingat juga, harta hanya titipan Yang Kuasa, tidak sepantasnya abah selalu menagungkannya.” Namun sedikit pun perkataan yang di keluarkan Romlah tidak digubrisnya. Lain halnya dengan Katiman, pemuda itu hanya mampu melihat kepergian pujaan hatinya itu dari kejauhan saja. Akhirnya Romlah pun masuk ke dalam mobil sedan itu, sesaat bayangannya pun hilang di bawa sedan yang melesat cepat itu.
Di tengah perjalanan, hampir tiga perempat perjalanan tepatnya, sedan itu tiba-tiba berbelok ke sebuah salon. Tante Susi berniat ingin merubah penampilan Romlah yang terlihat kusam itu. Alasannya, pelayan di kafenya itu harus selalu tampil cantik dan rapi dihadapan pelanggannya. Tapi saat Romlah diminta untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian yang minim kain Romlah seketika menolak. Tante Susi pun memaksa, karena ini juga merupakan salah satu persyaratan pekerjaannya. Romlah mulai curiga. Ia berharap semua kecurigaannya itu salah.
Gemerlap lampu kota nampak jelas ketika Romlah berada didalam mobil sedan itu. Sebuah rumah mewah tampak terlihat dihadapannya. Mobil itupun membelokkan setirnya dan masuk kedalam halaman rumah tersebut yang garasinya sudah terbuka lebar. Ketika masuk kedalam rumah megah itu, Romlah terkejut. Keadaan dalam rumah itu tak seindah luarnya. Ruang demi ruang dalam rumah itu tampak remang – remang. Tercium jelas bau – bau alcohol yang menusuk hidung. Beberapa pasang mata pun terlihat tertuju pada datangnya primadona baru di istana itu. Firasat Romlah makin tidak enak. Romlah pun dipersilahkan untuk istirahat disebuah kamar. Dia diantar oleh tante Susi. Romlah pun bertanya pada tante Susi, “ tante, sebenarnya ini tempat apa ? “
“ Sudah kamu tenang saja, ini rumah tante sekaligus tempat kerjamu, dan dikamar ini merupakan salah satu ruang kerjamu, “ jawab tante susi.
“ Maksud tante ? “ tanya Romlah tak mengerti.
“ Sudahlah bukankah kamu ingin menuruti kemauan abahmu yang kolot dan bodoh itu, “ kata tante Susi sambil tertawa
Romlah benar – benar takut saat ini. Ia berdo’a mudah – mudahan Tuhan selalu menjaga dirinya demi niat baiknya menuruti permintaan abahnya.
“ Malam ini kamu boleh istirahat, tapi besok kamu malam kamu harus mulai bekerja, “ kata tante Susi sambil menutup pintu kamar Romlah.
“ Kenapa waktu jam kerja saya malam tante ? “ tanya Romlah
“ Kamu itu jangan banyak Tanya ! “ bentak tante Susi
Sebelum tidur, Romlah pun mengambil air wudhu dan sembahyang memohon agar Tuhan selalu melindungi tiap langkahnya. Tetes air matanya pun tak kuasa ia tahan saat ia mencurahkan semua isi hatinya kepada Yang Kuasa. Romlah pun berdo’a agar Tuhan memberikan hidayah kepada abahnya ia juga berharap semoga ia bisa membalas jasa abahnya.
Selesai sembahyang direbahkannya tubuhnya ke sofa dipojok tempat tidurnya. Tak terasa matanya pun mulai terpejam, karena kantuk dan lelah yang mulai menyerang. Ia berharap Tuhan masih memberikan umur panjang untuknya, sampai ia mampu menuruti kemauan abahnya. Iapun terbawa hanyut dalam mimpinya bersama Katiman yang akan menemaninya dimasa senjanya.
Keesokan harinya Romlah pun terbangun, ia keluar dari kamarnya. Betapa terkejut hati Romlah melihat botol – botol khamer berserakan.
“ Tempat apa ini sesungguhnya ini ya Allah, “ kata romlah
Salah seorang wanita menyapanya,” Hey kau apa kau primadona baru disini?”
Romlah tidak mengerti akan maksud kata – kata wanita itu,” Maksud anda apa ya?”
“ Bukankah kau pekerja baru disini yang tante Susi ceritakan padaku, kenalkan namaku Gina,” kata wanita itu sambil menyodorkan tangannya
“ Mbak Gina, saya Romlah mbak, “ sahut Romlah penuh kepolosan.
“ Tidak usah pakai mbak, saya masih muda kok. Panggil saya Gina, “ katanya memperjelas.
“ Emmm . . . . ia Gina,” kata Romlah.
“ Selamat datang ya disini, mudah – mudahan kehadiranmu tidak membawa petaka bagiku, “ kata Gina ketus.
“ Petaka? Sebenarnya saya ini akan diberikan pekerjaan apa? Bukankah kita disini sama – sama mengais rizqi dari Tuhan,“ kata Romlah.
“ Tidak pantas kau sebut nama Tuhan disini, kita ini orang – orang yang paling dibenci Tuhan,” kata Gina
“ Dibenci? Bisa kau perjelas maksud kata – katamu itu,” pinta Romlah
“ Sudahlah nanti juga kau akan mengerti maksudku, yang penting kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan dengan uang,” jawab Gina.
Romlah makin bingung dengan kata – kata Gina tadi. Ia semakin penasaran dengan pekerjaan yang akan ia dapatkan. Apapun pekerjaan itu, dia sudah terlanjur janji dengan abahnya. Dan ia berharap mudah – mudahan pekerjaannya sesuai dengan yang diharapkan.
Kini sinar surya berganti rembulan. Kicau burung berubah menjadi dencitan kelelawar. Tante Susi masuk kekamar Romlah.
“ Romlah Romlah . . . ,” sambil mengetuk pintu kamar Romlah.
Romlah pun membukanya,” ada apa tante?”
“ Cepatlah kau bersolek, kini waktunya kamu bekerja, tamu – tamumu telah menanti, “ kata tante Susi.
“ Tante apa yang harus saya lakukan?” kata Romlah
“ Ayo cepat ikut aku,” kata tante Susi.
Romlah pun mengikuti perintah tante Susi, diajaknya Romlah menemui tamu – tamunya.
“ Romlah, kamu harus mau melayani dan menemani serta menuruti apa kemauan mereka, “ ujar tante Susi.
“ Tante, sebenarnya ini apa mana pekerjaan saya? “ Romlah mulai mengerti dan ketakutannya pun mulai menjadi – jadi.
“ Iya, ini pekerjaanmu, jika mala mini kamu mampu melayani mereka, besok kamu sudah bisa mengirimi abahmu yang mata duitan itu dengan jumlah yang cukup besar, paksa tante Susi.
“ Maaf tante tapi saya tidak sehina ini saya masih punya harga diri. Pulangkan saya kerumah abah malam ini juga, “ pinta Romlah sambil menangis
“ Apa kamu bilang! Plaaak . . . ! ” Tamparan mendarat dipipi mulus Romlah.
Romlah makin menangis tersedu – sedu, ia tidak mungkin merelakan kehormatannya sebagai wanita. Tapi karena terus dipaksa dan terus disiksa, akhirnya Romlah pun pingsan. Pipinya memar – memar karena ditampar berkali – kali oleh tante Susi atas dasar karena Romlah tidak mau menuruti kata – katanya. Romlah pun benar – benar tidak sadarkan diri. Romlah dipaksa untuk meminum minuman haram itu. Romlah benar – benar seperti orang tak bernyawa lagi.
Disaat Romlah mulai sadarkan diri, ia masih terbaring lemas tak berdaya. Ia sama sekali tidak mengingat kejadian yang menimpanya. Yang ia sadari sekarang adalah tak sehelaipun benang menutupi tubuhnya. Ia langsung menarik selimut yang ada didekatnya. Ia pun menangis, dilihatnya segepok uang bernilaikan 15 juta tergeletak diatas dadanya. Isak tangis yang makin menjadi-jadi bagai halilintar yang menyambar – nyambar kepiluan hatinya.
“ Kini sirna sudah kemilau impian yang akan kurajut diusia senjaku, “ Rintihnya lirih
“ Tuhan, kini aku sudah hina, aku sudah kotor, apa aku masih pantas menjadi hambamu ?” Katanya benar – benar terisak.
Akhirnya Romlah berpikir, ini memang sudah takdirnya. Penderitaan serta cobaan harus dihadapi. Iapun membersihkan dirinya, setelah itu ia lakukan sholat taubat memohon pengampunan Sang Pencipta. Ia memohon disaat ia kembali kepangkuan – Nya dalam keadaan kotor.
Setelah itu ia pun menulis surat untuk abahnya dikampung bahwa ia hanya dapat mengirimkan uang sejumlah ini. Ia pun meminta maaf kepada orang tuanya. Disuratnya ia juga meminta agar menyampaikan salam rindunya untuk Katiman. Ia juga berharap mudah – mudahan dengan uang itu abahnya bisa membeli apa yang ia mau.
Akhirnya surat itupun tiba ditangan abah dan emaknya.
“ Bah . . . abah!” Panggil emak Romlah.
“ Apa sich pagi – pagi gini sudah teriak – teriak, “ Kata abah sambil mengucak matanya.
“ Ini bah anak kita Romlah mengirimkan kita surat,” Kata emak.
“ Halah sekedar surat saja senang, ada uangnya tidak ? ” Kata abah.
“ Bisa tidak abah ini sedikit saja mengkhawatirkan keadaan Romlah, tidak hanya uang, uang, dan uang!” Jelas emak.
“ Iya abah ini seperti tokoh kartun di spongebob saja, si tuan Krab,” Sahut sikecil Abdul.
“ Hah kalian berdua ini sama saja, mana berikan surat itu,” Kata abah tidak menghiraukan.
Begitu dibukanya abah kaget melihat segepok uang jatuh dari map coklat yang dibukanya.
“ Hah uang, uang, Romlah anakku memang pintar, sekarang juga aku akan membeli kambing di pasar,” Kata abah atau Juragan Somad tanpa membaca pesan anaknya. Untung saja emak mengambil dan membaca pesan anaknya itu.
Entah apa yang sebenarnya yang ada dihati abahnya itu. Tidakkah sedikit saja nalurinya sebagai ayah yang menghawatirka buah hatinya itu sudah hilang tertutup harta.
Naudzubillahimindzalik . . .
Ditempat lain kini Romlah sedang terbaring sakit. Tak henti – hentinya hati dan lidahnya itu mengucap asma – asma Allah. Sakit Romlah semakin hari semakin parah tanpa ada satupun orang yang memperhatikannya. Suatu hari ketika tante Susi masuk ke kamarnya.
“ Hey Romlah sampai kapan kau terus – terusan sakit seperti ini, bisa bangkrut saya nanti!” Kata tante Susi.
“ Tante aku tidak akan lama lagi merepotkanmu,” Kata Romlah.
“ Baguslah kalau begitu, “ Jawab tante Susi ketus.
“ Asalkan tante mau mendengar kata – kata terakhirku, “ Kata Romlah.
“ Kau ini seperti sudah akan mati saja, “ Kata tante Susi sedikit menampakkan kekhawatirannya.
“ Tante berhentilah dari pekerjaan ini, Allah sangat membenci ini semua tante, bertaubatlah tante selagi Allah masih mau menerima taubat kita, “ Kata Romlah.
Tante susi hanya terdiam dan meneteskan air matanya.
“ Satu lagi tante, apabila nanti aku akan menghadap Sang Khalik, aku ingin tante memulangkanku ke kampong. Biar abah dan emak masih mampu melihat ku dan mengantarku ke tempat peristirahatan terakhir ku, dan aku pun ingin selalu tetap hidup di hati mereka. Aku pun juga ingin, kalau Katiman tahu bahwa cintakku ini akan terpendam bersama jasad kun anti,” pinta Romlah sedikit terbata-bata.
“ Romlah, apa yang kamu bicarakan itu sayang? Kamu pasti kuat nak, maafkan tante sayang,” kata Tante Susi sambil menangis dan memeluk Romlah.
“ Aku sudah memaafkan tante, asal tante mau berubah demi masa senja tante, jangan sampai kemilau masa itu, akan sirna seperti harapan-harapan ku ini tante,” Kata Romlah.
“ Baik sayang, tante pasti mengabulkan keinginan mu,” sambil memeluk Romlah lebih erat lagi dan menangis.
“ Asshaduallaillahaillah wa ashaduanna muhammadarosullah,” lafaz terakhir yang di ucapkan Romlah dari bibirnya. Ia pun benar-benar telah menghadap Sang Khalik. Tante Susi tak kuasa menahan sedih dan seribu penyesalan atas apa yang pernah ia lakukan kepada gadis sebaik dan semulia Romlah.
Tante susi pun memenuhi pesan-pesan terakhir Romlah. Tidak hanya Tante Susi saja tapi abahnya juga benar-benar menyesali semua perbuatannya itu seumur hidupnya. Ia menjual sebagian ladangnya dan ia sumbangkan kepada rakyat-rakyat jelata. Ia benar-benar menyesali sega perbuatannya itu, sampai pada akhirnya ia pun tidak mampu mengicapkan kata maaf kepada putrinya itu hingga ajal menjemputnya.
Sedang Katiman, ia hanya mampu merelakan kepergian belahan jiwanya itu. Kilau-kemilau senjanya yang ingin ia rajut bersama Romlah kini sirna bersama takdir. Walaupun begitu cintanya takkan pernah mati untuk Romlah. Begitupun Romlah sampai akhirnya ia bersandar tenang, ia mampu membuktikan ketulusan cintanya itu. Kemilau senja yang mereka impikan, kini benar-benar tak kan terwujud. Biarlah takdir dan cintanya itu terkubur bersama angan-angan yang dulu mereka rajut. Semua tinggal kenangan, semua tinggal cerita, biarlah semuanya itu sirna bersama kemilau cahaya senja.

SEKIAN . . .






FOR ALL GIRLS!!!
GAG GAMPANG JADI CEWEK!!

S
ob, tauk gag sich kalo jadi cewek itu gag gampang? Sebagai perempuan kita itu terlahir sebagai makhluk paling berani di dunia. Sadar atau pun enggak, emang gitu faktanya. Guys ini semua pengetahuan yang saya ambil saat say abaca sebuah Koran yang ngebahas tentang “TUGAS BERAT SEORANG PEREMPUAN” dari KORAN JAWA POST biar kalian sadar kalo jadi cewek itu penuh dengan RESIKO yang juga merupakan KODRAT dari seorang wanita.
Contoh kecil saja saat wanita mengalami masa haid, yang kadang menimbulkan rasa nyeri tiap bulannya. Yang pasti terjadi seumur hidupnya selama ia masih produktif.
Contoh lain lagi pada masa kehamilan, yang tak mudah untu dilewati selama 9 bulan. Terlebih lagi saat melahirkan, disini para wanita berada dalam ajang HIDUP MATI untuk melahirkan bayi suci ke dunia. Selain itu pula setelah melahirkan biasanya tubuh srorang wanita menjadi berubah. Selesai persalinan mereka harus menyusui anak yang di lahirkannya. Lihatlah betapa besar perjuangan seorang ibu.
Perempuan juga pun harus mampu menjaga KEPERAWANANNYA. Apalagi di era modrn ini lagi-lagi FREE SEKS. Seorang wanita akan hilanh keperawanannya setelah melakukan hal tersebut. Dan anehnya walaupum tidak mengalami kehamilan, tubuh seorang wanita dapat berubah saat keperawanannya telah hilang.
Lain halnya dengan kaum laki-laki, meskipun sering melakukan free seks, mengapa tak ada kata bahwa ia kehilangan keperjakaannya?? Mengapa perjaka atau tidaknya seorang pria tidak dapat dilihat dengan kasat mata??
Selain itu seorang perempuan yang hilang keperawanannya akan dicerca dan dianggap sampah kotor bagi keluarga, calon suami, atau pun masyarakat. Tapi mengapa tak ada orang yang mencerca seorang pria sampah jika sudah tidak perjaka lagi??
Sadarkah jika kaum wanita lah yang lagi-lagi DIRUGIKAN!
Derajat seorang janda pasti dianggap rendah oleh masyarakat. Lain lagi dengan status duda, tak ada orang yang menganggap remeh status tersebut. Satu lagi para PEKERJA SEKS KOMERSIAL (PSK) perempuan dan pria. Mengapa selalu ada razia PSK WANITA yang dikejar sapol PP, dan heboh diberitakan di media masa? Sedangkan PSK pria? NOL!! Tak pernah ada berita PSK pria atau gigolo dikejar satpol PP.
Kalian kaum hawa, jangan lah patah semangat hanya karena keterbatasan, perbedaan dan cobaan. Ingat masa depan ada di tangan kita. TAK AKAN ADA MANUSIA BARU TANPA KITA!
JADILAH WANITA YANG TEGAR! PEREMPUAN TETAPLAH PEREMPUN! IBU DARI SEGALA KEHIDUPAN DI DUNIA!!!


BY: anakk JURNALIS SMAZAM

1 komentar:

Anggun Dherty V mengatakan...

SIIPPZZ . . .
MUDAH2N KARYA ANAK JURNALIS MAKIN SIPPZ . . .
:)

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3