Minggu, 13 Februari 2011

karya

Karya: Rinda S.I (XD)

Rembulan menggantung di langit fajar yang pucat benar. Gelap menggelepar bersama sejuta biar, menghentak cahaya samar di balik gulita fajar. Indah. Kemilau cahaya berebut berpijar. Induk fajar menyembul menyinar lembut lazuardi. Rembulan yang bulat penuh tersenyum hambar mempertahankan sinar bersama titik-titik bintang dan Venus yang kilau berpendar.
Pagi ini tak ada yang beda, menurutku. Aku menapaki jalan sunyi yang kian padat sibuk menuju halte bus. Pukul 06.30. Masih seperti biasa, aku dengan setia menanti bus. Semilir angin mengipasi bara keraguanku yang kian nyala. Apa jadinya bila aku terlambat? Jam pertama nanti adalah jam Bahasa Inggris Mrs Whitestein. Ah! Tidak mungkin terlambat! Ini memang jam berangkatku. Tapi gelisah dan khawatirku memuncak di pucuk-pucuk keanehan pagi ini. Sepuluh menit, lima belas menit aku menunggu dalam erat dekap udara tanpa hasil.
“Virginia! Kau belum berangkat?” Irene Christopher. Sahabat baikku. Dia datang tergopoh dengan wajah pucat tersinari matanya yang memerah. Sepertinya habis menangis. Astaga! Berarti aku terlambat!
“Tak ada bus. Dua puluh menit sudah aku menunggu. Kau sendiri? Baru berangkat? Kenapa?” Dia tersenyum pahit dan matanya yang sembab mulai berkaca-kaca, retak dalam kilau airmata. Bodohnya aku! Kenapa aku menanyakannya? Dan inilah situasi terburuk dalam hidupku. Saat Irene menangis di depan retinaku! Aku tak bisa berbuat apapun. Mencoba menenangkannya hanya akan memperderas airmatanya. Maka aku hanya diam membisu. Mencoba berfikir mengapa Irene begitu sensitive seperti itu. Entahlah. Tapi itulah Irene. Miss Crying kata teman-teman. Ya. Perasaan Irene memang sangat labil dan peka, jadi mudah saja airmata itu mengalir.

Kurasa, dia bahkan berbakat dalam menulis. Tapi kelebihan terhebatnya adalah Fisika dan Matematika.
Bus datang sepuluh menit kemudian. Penuh. Kami terpaksa berjejal di depan pintu bus demi tiba di sekolah. Dan tentu saja terlambat. Pukul 07.15 kami tiba dan langsung berlari memasuki gerbang yang hampir ditutup. Di depan kelas-kelas masih berjejal siswa-siswi menunggu guru jam pertama membuka pintu. Inilah keanehan SMA kami. Di tata tertib jelas tertulis bahwa jam pelajaran dimulai pukul 07.00, tapi guru jam pertama membuka pintu pulul 07.15 atau bahkan pukul 07.20. Inilah kelemahan sekolah kami dan juga mungkin sekolah-sekolah lain di Indonesia. Terlalu meremehkan waktu! Maka tak salah bila Indonesia melahirkan koruptor-koruptor besar macam Soeharto atau Gayus Tambunan bukannya Ilmuwan besar layaknya Albert Einstein atau Sir Isaac Newton. Karena sejak di bangku sekolah pelajar Indonesia telah dijejali dengan contoh-contoh korupsi waktu dan korupsi hak siswa untuk mendapatkan pelajaran sesuai perjanjian tata tertib. Dan secara tak langsung, mengkorupsi dana yang dibayarkan siswa karena lima belas menit tiap hari dikorupsi.
Mrs Whitestein menatap tajam di balik kacamata. Hanya beliaulah satu-satunya guru yang tepat waktu. Dan tentu saja kami diinterogasi habis-habisan sampai akhirnya aku dipersilahkan duduk.
“Virginia Alexander, anda boleh duduk karena ini keterlambatan pertama anda. Saya memaklumi alasan anda. Tapi ingat, saat jam pelajaran saya, kelas ini adalah English Class yang sangat menghargai waktu. Dan anda Irene Christopher, anda bisa minta izin ke ruang piket karena ini kedua kalinya anda terlambat.” Irene menatap sejenak Mrs Clarina Whitestein lalu setangah berlari menuju ruang piket disambut sorakan teman-teman. Aku penasaran, apa sebenarnya yng terjadi pada Irene sehingga teman-teman menjulukinya Miss Late karena dia sering datang hanpir terlambat atau bahkan terlambat.
Maka keesokan harinya aku mengadakan penyelidikan bersama bendahara kelas kami yang lucu dan periang, Cynthia Abraham. Dia juga termasuk sahabat baikku.
Kami menanti di depan rumah Irene senbari bersembunyi di balik pohon dan keremangan fajar. Akhirnya, Irene kelar dangan membawa kantong plastic besar yang penuh. Kami mengikuti Irene sampai ia berhenti di sebuah kios dan memberikan kantong plastic besar itu pada seseorang. Mungkin pemilik kios.
“Kau lihat? Jadi Irene berjualan? Padahal orang tuanya berada bukan?” Suara Cynthia berusaha menyaingi desah angin.
“Ya. Kau benar. Tapi lihat itu! Irene juga membeli sesuatu!” Irene membeli sekotak pena dan dua lusin buku tulis. Apa sebenarnya yang akan dilakukan Irene?
“Aneh. Kita harus menyelidiknya. Atau kalau perlu kita bisa minta bantuan Hercule Poirot untuk…….” Aku memotong perkataan Cynthia yang mulai dibayangi novel Agatha Christie dan detektif handalnya, Hercule Poirot.
“Cynthia, bukan saatnya untuk bercanda!” Bersama angin yang membekukan embun kami masih mengikuti Irene menuju sebuah Musholla. Di Musholla itu ada sekitar dua puluh remaja seusiaku menyambut Irene yang membagikan buku dan pena itu untuk mereka.
“Virginia, bukankah lebih baik jika kita menghampirinya? Kita juga belum Sholat Shubuh bukan?”
“Oh! Tentu. Tentu saja.” Aku terkesiap demi mendengar ucap Cynthia yang menyadarkanku dari ketercenganganku. Ternyata kami salah menilai Irene selama ini.
“Assalamualaikum….”
“Waalaikumsalam. Cynthia! Virginia! Kalian….”
“Maaf. Kami mengikutimu tadi. Kami penasaran apa yang kau lakukan sehingga kau terkenal dengan sebutan Miss Late.” Mata Irene kembali berkaca-kaca, siap menumpahkan tetes airmata dibalik sinar matanya yang hidup dan tajam.
“Ya. Aku mengajar teman-temjanku ini yang masih ingin belajar. Mereka adalah lulusan SMP yang tak bisa meneruskan ke SMA karena kendala biaya. Jadi aku terlambat karena setiap pagi aku membuat kue-kue untuk kujual sehingga aku bisa membeli alat tulis untuk mereka. Kalian tahu, aku melakukannya karena mereka lebih mulia dari kita.”
“Maksudmu?”
“Mereka belajar untuk ilmu. Hanya untuk mendapatkan ilmu. Bahkan mereka tetap belajar walau tak mendapat raport atau ijazah sekalipun. Sedangkan kita? Kita belajar demi nilai bukan? Bahkan guru-guru pun melakukan banyak cara hanya untuk mendongkrak nilai kita. Jadi merekalah pelajar sesungguhnya yang belajar demi ilmu bukan kita yang belajar demi nilai.” Kami tercenung. Sahabat macam apa aku ini yang tak tahu kesulitan dan duka sahabatnya sendiri?
“Irene….maafkan kami. Kami selama ini selalu mengejekmu dengan sebutan Miss Crying, Miss Late atau apapun. Kami sekarang tahu bahwa kau bukan Miss Late lagi tapi kau adalah Miss Raising Sunrise yang telah menyadarkan kami makna pendidikan sebenarnya dan membantu mereka sang pelajar sejati untuk terus belajar.”
“Kalian bercanda! Aku tidaklah sesempurna itu!”
“Tapi mengapa kau berjualan untuk mereka? Bukankah kau bisa minta pada orang tuamu?”
“Tidak. Aku tak ingin melibatkan harta orang tuaku. Kupikir, akan lebih baik jika aku memakai hasil keringatku sendiri.”
“Tapi, bolehkah kami membantumu?”
“Tentu saja. Mereka pasti senang mendapat teman belajar baru. Bukankah begitu?” Irene menoleh pada remaja-remaja itu yang menyambutnya dengan sorak.
“Ya. Tentu saja!!!!” Bedug shubuh bertalu tersambut lembut alunan adzan. Syahdu pagi itu terjelma dalam senyum sang pelajar sejati yang kian rekah bersemi. Aku malu pada mereka. Ya. Tentu saja. Kami seharusnya banyak belajar pada mereka yang bersemangat belajar tanpa pamrih.
Sejak saat itu kami membantu Irene menyiapkan dagangannya dan mengajari pelajar-pelajar sejati itu. Kami menyisihkan uang saku kami untuk membeli buku pelajaran untuk mereka. Mereka adalah generasi sejati Indonesia yang harus dibina, bukan diabaikan.
Jadi kami mengajari mereka ilmu yang kami peroleh di sekolah. Aku belajar Biologi, Bahasa Inggris, Geografi dan Bahasa Indonesia dengan mereka. Sedangkan Irene mengajari mereka Fisika, Matematika dan Kimia. Cynthia mengajari mereka Bahasa Arab, Bahasa Mandarin dan Ekonomi. Dan satu lagi, sepupuku, Catherine Alexander bertugas mengajar Sosiologi, Sejarah dan PKN. Setiap dini hari dan sore Musholla itu semarak dengan semangat mereka yang kian menyala.
Dan kini, gelar Miss Late hilang sudah pada diri Irene. Dia berangkat lebih pagi bersamaku, Cynthia dan Catherine. Tapi Miss Crying? Tampaknya tak bisa menghapuskan gelar Miss Crying dari Irene karena bukan Irene namanya kalau tidak mudah menangis. Kau tahu, dia sangat labil dan perasa.
THE END




BY: ANGGGUN DHERTI V.

Saat aku mengharap sebuah keajaiban. . .
Aku tersenyum melihat bayang rapuh ku. . .
Tengadah aku bersimpuh kaku. . .
Menatap semua yang telah layu. . .

Disaat semua telah gugur. . .
Harap ku sirna penuh sesal. . .
Sesak dan tangis. . .
Membaur menyelimuti kepiluan hati. . .
Kini aku bukan yang dulu lagi. . .
Sendiri, terdiam, dan terisak,
Penuh duka. . .
Keceriaan ku dan kebahagiaan ku. . .
Seketika hilang tanpa arah,
Dan bukan tanpa sebab. . .
Aku berharap Tuhan mendengar ku. . .
Andaikan waktu dapat ku putar. . .
Aku ingin kembali saat aku,
Pertama kali melihat dunia. . .
Semua tampak indah. . .
Walau aku belum dapat merasakannya…
Berusaha ku tepiskan. . .
Bayang impian bodoh ku itu. . .
Kembali menikmati indah hidup dengan mu. . .
Namun saat kau tak hadir lagi. . .
Kurasa kesunyian amat mendalam. . .
Percayalah . . .
Walau kini kita berpisah. . .
Tapi hati kita tetap menyatu. . .
Walau kelak aku akan mati. . .
Tapi kau tetap hidup dalam mati ku. . .




Saat aku mengharap sebuah keajaiban…
Aku tersenyum melihat bayang rapuh ku…
Tengadah aku bersimpuh kaku…
Menatap semua yang telah layu…

Disaat semua telah gugur…
Harap ku sirna penuh sesal…
Sesak dan tangis,
Membaur menyelimuti kepiluan hati…
Kini aku bukan yang dulu lagi
Sendiri, terdiam, dan terisak penuh duka…
Keceriaan ku dan kebahagiaan ku…
Seketika hilang tanpa arah,
Dan bukan tanpa sebab…
Aku berharap Tuhan mendengar ku…
Andaikan waktu dapat ku putar…
Aku ingin kembali saat aku
Pertama kali melihat dunia…
Semua tampak indah …
Walau aku belum dapat merasakannya…



Berusaha ku tepiskan….
Bayang impian bodoh ku itu….
Kembali menikmati hidup dengan mu…
Namun saat kau tak hadir lagi …
Kurasa kesunyian amat mendalam…


Percayalah….
Walau kini kita berpisah….
Tapi hati kita tetap menyatu…
Walau kelak aku kan mati…
Tapi kau kan tetap hidup dalam mati ku…

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Thanks for posting my short story, I wish 'Jurnalistik' can reach brighter future.
Warm regards,
V. Alexander

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Modern Warfare 3